Waspada Kekerasan Dalam Berpacaran (Bagian Satu)

Published by : Marti Posted on : Senin, 3 Maret 2014

Waspada Kekerasan Dalam Berpacaran (Part One)

"When one person uses a pattern of violent behavior through means of verbal, physical or sexual intimidation to gain power and control of their partner,"

Banyak remaja merahasiakan hubungan realitas dari dunia luar. Kita yang terperangkap, pengen banget keluar dari lingkaran ini. Nyatanya, hati dan fisik kita galau dan takut berjuang. Kita ditekan atau diteror terus menerus dan enggak ada yang paham keadaan kita. Apakah kita korban abuse?

 

Apa Kita Resiko Kekerasan?

Ironisnya, korban kekerasan enggak mengenal batas umur, gender, ras dan tingkat sosial. Siapapun bisa menjadi korban. Yang bikin sedih, korban kekerasan malah menyalahkan diri sendiri atas perlakuan yang didapat. Biasanya mereka anggap kekerasan ini hukuman kesalahan atau pengorbanan cinta.

 

Pelaku Kekerasan

Ciri termudah pelaku kekerasan sebenarnya gampang kita deteksi dari awal. Pacar posesif dan sering mengancam putus merupakan salah satu tanda abuser. Mereka hobi mengatur dan memantau aktivitas kita. Mereka sering membuka akun sosial media kita dan melarang hangout dengan sahabat kita. 

Ternyata nih, faktor utama pembentuk kekerasan adalah lingkungan dan keluarga mereka sendiri. Menurut Organisasi anti kekerasan TEAR (Teens Experiencing Abusive Relationship), Pelaku kekerasan hidup di tengah lingkungan abuser.

 

Tanda Kekerasan

Dua kekerasan paling buruk adalah psikis dan seksual. Korban ini sulit dikenali daripada kekerasan fisik. Dengan kekerasan psikis, pelaku dapat mengontrol dan punya power untuk menaklukan korbannya. Pelaku membuat kita merasa rendah diri dengan permainan pikiran, ancaman, teror, dan kritik tajam. Tujuannya, tentu saja membuat kita takut dan takluk kepada pelaku.

Kasus terparah dalam permainan psikis adalah pelaku sengaja berselingkuh untuk membuat kita semakin takut kehilangan. Cara ini dianggap paling mudah membuat kita berjuang mati-matian dan rela mengorbankan apapun untuk si pelaku.

 

FAKTA TEAR:

-          1 dari 3 remaja melaporkan sahabatnya dianiaya (pukul, tendang, tampar, cekik atau cedera fisik) oleh pasangannya.

-          1 dari 4 remaja perempuan dipaksa melakukan hubungan seksual oleh pasangannya.

-          Lebih dari 1 dalam 4 hubungan remaja 26% adalah korban kekerasan verbal. Ketika terjebak dalam kekerasan 73% diantaranya mau minta pertolongan kepada sahabat mereka, namun hanya33% yang melakukannya.

-          Hampir 80% korban kekerasan psikis melanjutkan hubungan mereka kembali dengan pelaku setelah putus.

-          Perempuan usia 15-19 tahun (City of New York, Teen Relationshop Abuse Fact Sheet) meninggal setiap tahun, 30% diantaranya terbunuh oleh pacar.

-          Hanya 25% remaja yang melaporkan kekerasan tersebut kepada orangtuanya.

 

(stefanie, foto : capitaleap.org)

 

 

author :

Marti

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN