Stop Being Over-Analyst

Published by : Redaksi Kawanku Posted on : Kamis, 9 Mei 2013

Stop Being Over-Analyst

Tanpa disadari atau enggak otak kita sering membuat skenario terburuk tentang diri kita atau situasi di sekitar. Parahnya, semakin semakin kita pikirkan, semakin bikin galau. Duh!

 

Ngerasa sedih gara-gara merasa teman-teman enggak suka lagi sama kita, padahal mungkin mereka lagi sibuk. Selalu ngerasa #nomention yang diketik teman di Twitter itu ngomongin kita? Selalu gagal PDKT karena punya ribuan alasan di kepala bahwa si cowok itu enggak akan suka sama kita?

 

Kalau kita sering mengalami hal seperti ini, artinya kita orang yang sering over-analyst. Penelitian dari University of Michigan menunjukkan 57% cewek memang punya kecenderungan over-analyst. Over-analyst itu adalah kondisi saat kita memikirkan sesuatu hal secara berlebihan. Biasanya hal yang dipikirkan pun hal-hal buruk. Akibatnya kita makin galau, masalah kecil dan sederhana jadi terlihat besar dan berat. Kita juga cenderung jadi berpikiran buruk tentang orang lain. Sifat ini enggak hanya merugikan tapi juga membuat kita melihat dunia dengan muram. Enggak asyik banget, kan?

 

Mind does matter

Pikiran adalah salah satu senjata manusia yang luar biasa sekaligus mematikan. Dia bisa membuat mood kita naik atau turun. Kalau kita berpikir kita bahagia, mood bisa jadi bahagia dan sebaliknya.

 

Supaya enggak over-analyst, otak perlu disetel jadi positif. Jadi, ketika sahabat enggak BBM, bisa jadi alasannya karena dia sibuk ekskul. Atau bisa jadi paket intenetnya habis, dan seterusnya. Dengan begitu, pikiran kita enggak terbebani.  Enggak bikin cape pikiran, kan?

 

Cara lain, kita bisa melakukan aktivitas di luar agar enggak terlalu sering galau. Kalau kita cuma tinggal di dalam kamar sambil buka laptop atau terus menerus memelototi layar HP, pikiran kita akan tersita dengan hal-hal yang berhubungan dengan orang lain yang belum tentu bermanfaat untuk diri kita. C'mon, get up, jump around and you'll feel better.

 

Tanpa jawaban

Ketika dihadapkan dengan masalah, secara otomatis kita berusaha mencari solusinya. Tapi ada perbedaan antara berusaha mencari jalan keluar dan menjadi over-analyst. Kalau kita benar-benar ingin mencari jalan keluar atas masalah kita, kita pasti akan semakin dekat dengan solusi yang kita cari.

 

Bedanya dengan over-analyst. Sebenarnya enggak ada masalah berat tapi karena terlalu banyak dipikirkan, akhirnya jadi masalah. Nah, kalau ini yang terjadi, kita harus bertekad kuat untuk berhenti memikirkannya. Kita bisa curhat soal ini dengan teman atau ortu. Orang lain kadang bisa melihat sebuah masalah dari sudut pandang yang berbeda. Yuk, kita hentikan racun si over-analyst.

 

(muti, ednewsparents.org)

 

author :

Redaksi Kawanku

Kawanku - Majalah Remaja Cewek

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN