Quit Being The Drama Queen

Published by : Redaksi Kawanku Posted on : Minggu, 21 April 2013

Quit Being The Drama Queen

Jujur saja, complain itu kan enak! Hi hi hi... Sifat dasar manusia kan, selain suka mengeluh, juga suka minta dikasihani, dan membesar-besarkan masalah. Singkatnya sih, jadi drama queen.

 

Ha ha ha... kalau cuma sehari saja sih enggak apa-apa ya... Bakal jadi parah kalau kebiasaan ini kita biasakan dan lama-lama terbentuk jadi sifat. Walaupun istilah drama queen terdengar sangat cute dan manis, beneran deh, sifat ini sama sekali enggak ada manis-manisnya.

 

Lupa bersyukur

Karena selalu mengeluh, kita jadi lupa buat mensyukuri hal-hal kecil maupun besar yang terjadi dalam hidup kita. Terus kita juga jadi hobi buat mencari perhatian orang dengan cara membuat kisah hidup kita setragis mungkin.

 

Masalah kecil bakal kita tambahi bumbu macam-macam sehingga akhirnya kita terlihat seperti cewek dengan beban paling berat di dunia. Terus kita pasang deh status yang menyedihkan di YM, BBM, Facebook, Twitter, Path, semuanya... Pas ada yang comment nanya kenapa dan bersimpati, hati kita pun jadi senang, merasa diperhatikan.

 

Bikin bosan

Yang harus kita ingat, enggak akan ada orang yang bakal simpati terus-terusan sama sang drama queen. Lama kelamaan orang pasti akan bosan mendengar cerita sedih kita. Lebih parah lagi kalau mereka mulai ngomong, "Ah, enggak usah didengerin deh. Cerita dia mah lebay doang." Doh, padahal mungkin saat itu kita benar-benar lagi punya masalah yang berat. Enggak enak kan.

 

So, before it's too late, stop the drama. Hidup enggak segelap yang ada di bayangan kita kok. Soalnya nih, kalau keseringan mengasihani diri, lama-lama kita jadi malas berusaha. "Pasrah saja deh, toh aku susah-susah hidupku tetap begini-begini saja. Memang sudah nasib." Yaaa... kalau selalu pasrah dan enggak pernah mau susah atau berusaha, pantas saja hidup kita jadi enggak asyik. Itu sih bukan kerjaannya si nasib, tapi kerjaan kita sendiri. So stop feeling sorry for yourself. Show life, who's in charge!

 

Generasi instan

Enaknya jadi kita yang lahir menjelang abad 21, hidup memang jadi mudah banget. Makanan instan, banyak. Enggak perlu tuh susah-susah ke pasar buat beli bahan atau ribet-ribet belajar masak. Tinggal seduh, celup, jadi. Mau menghubungi teman di luar negeri, tinggal email, telepon, SMS, atau bahkan BBM. In a flash, langsung dapat jawaban.

 

Kalau dulu, orang bisa nunggu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan cuma untuk mendapatkan jawaban suratnya. Asyik? Pasti dong... Tapi karena kebiasaan instan inilah, kita cenderung jadi orang-orang yang enggak sabaran dan mau semua serba cepat, langsung jadi, kalau bisa, enggak perlu pakai usaha. Satu hal yang sering kita lupa, untuk segala hal yang kita inginkan di dunia, pasti ada prosesnya. Jadi, mari nikmati prosesnya dan syukuri hasilnya, girls!

 

(ruth, foto: parentsdish.co.uk)

 

 

author :

Redaksi Kawanku

Kawanku - Majalah Remaja Cewek

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN