Kenapa Seseorang Bisa Menjadi Gay?

Published by : Redaksi Kawanku Posted on : Senin, 29 September 2014

Kenapa Seseorang Bisa Menjadi Gay?

Umumnya, cowok suka sama cewek atau sebaliknya. Tapi ada juga cowok yang suka sama cowok. Atau malah cewek suka sama cewek. Kenapa ya, seseorang bisa menjadi gay?

 

(Baca juga: Shai Mitchell Bicara Peran Gay, Bullying dan Standar Kecantikan)

 

Kata Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, M.A, Ph.D, psikologi klinis UI, menurut teori psikologi ada beberapa penjelasan kenapa orang bisa jadi gay.

 

 

"Teori pertama bilang kalau gay terjadi karena ada yang enggak beres pada fase perkembangan seseorang. Untuk kasus gay, biasanya ketidakberesan itu terjadi pada fase phalic. Pada fase ini seseorang sedang belajar tentang identitas dan tanggung jawab gender," jelas Dharmayati.

 

"Jadi yang cowok beridentifikasi dengan laki-laki, dalam hal ini bapaknya. Sementara yang cewek beridentifikasi perempuan yaitu ibunya. Nah, kalau selama proses identifikasi ini dia tidak menemukan sosok yang bisa membuat penilainnya terhadap identitas antar jenis kelamin dengan baik, jadinya penilaian dia menjadi berbeda," tambahnya.

 

(Baca juga: Ariana Grande Membuat Lagu Tentang Cowok Gay)

 

Sosok cowok dan cewek

Maksudnya kalau seorang anak cowok enggak nemuin sosok cowok yang bisa ngasih liat gimana seharusnya cowok berpikir, bersikap, dan berperilaku, penilaian dia terhadap sosok cowok jadi berbeda dengan cowok pada umumnya.

 

Gitu juga terhadap cewek, kalau si cewek ini enggak nemuin sosok cewek yang bisa ngasih liat gimana seharusnya cewek berpikir, bersikap, dan berperilaku, penilaian dia terhadap sosok cewek juga jadi berbeda dengan cewek pada umumnya.

 

(Baca juga: Demi Lovato, Tertantang dengan Peran Kontroversial di Glee)

 

Proses belajar

"Dalam teori di atas sebetulnya kalau dicermati ada tergabung teori lain, yaitu teori belajar. Teori belajar intinya mau mengatakan kalau seseorang itu bisa jadi gay karena proses belajar. Proses belajar ini secara lebih luas bisa juga diaplikasikan ke lingkungan. Misalnya belajar dari alat-alat komunkasi audio visual. Belajar dari orang lain. Termasuk belajar coba-coba," terang Dharmayati lagi.

 

 

Belajar dari alat-alat komunikasi audio visual bentuknya seperti nonton film, acara televisi yang berbau gay. Kalau yang dimaksud dengan belajar dari orang lain. Misalkan ada seorang tokoh yang sosoknya dikagumi. Dia adalah seorang gay yang berprestasi dan punya banyak kelebihan.

 

(Baca juga: Josh Hutcherson Mendukung Edukasi Gay Rights)  

 

Nah, karena yang lebih keliatan prestasi dan segambreng kelebihannya itu, penilaian kita terhadap gay jadi berbeda. Enggak masalah jadi seorang gay, yang penting berkualitas. Penilaian kayak gini sedikit banyak ngaruh ke kita juga tentang hakikat gay.

Tapi, kita enggak perlu was-was atau langsung nge-judge macem-macem kalau punya punya teman gay.

 

Bukan penyakit

"Ada satu lagi yang mau saya kasih tau. Saya cuma mau ingatkan gay itu bukan penyakit. Being a gay is a choice. Kalau kamu memang mau jadi gay itu adalah pilihan kamu. Tapi kalau enggak, itu juga pilihan kamu. Semua orang punya hak untuk memilih menjadi gay," tandasnya.

 

(Baca juga: Chris Colfer Selalu Jadi Diri Sendiri)

 

(ega/ hai-online.com, foto: glee.wikia.com, tumblr.com)

 

author :

Redaksi Kawanku

Kawanku - Majalah Remaja Cewek

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN