Bibliotherapy, Buku Sebagai Terapi

Published by : Redaksi Kawanku Posted on : Rabu, 4 Desember 2013

Bibliotherapy, Buku Sebagai Terapi

Pernah, enggak, merasa galau karena suatu masalah dan sulit menemukan penyelesaiannya? Kita enggak hanya bisa curhat sama teman aja, girls. Melalui buku, kita bisa mencari jalan keluar untuk masalah ini. Hebatnya, bibliotherapy ini bisa dilakukan sendirian karena hanya membutuhkan buku yang sesuai dengan masalah kita.

 

Sebenarnya terapi ini sudah ada sejak lama. Tapi, awalnya hanya menggunakan self help book. Sekarang, Alain De Botton, penulis dan juga filosof dari Inggris, mengatakan kalau kita bisa menggunakan buku apa saja, termasuk puisi, novel, cerpen, atau sekadar penggalan novel.

 

Belajar dari buku

Tujuan utama terapi ini adalah menyadarkan kita kalau kita enggak sendirian ketika menghadapi masalah. Plus, membantu kita mencari penyelesaian dari masalah yang dihadapi, tentunya dengan cara yang menyenangkan dan enggak menggurui.

 

Menurut Alain, cara paling mudah untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengubah cara pikir. Jadi, kita bisa mempelajari sikap, pikiran, dan perilaku tokoh yang ada di buku untuk mengubah cara kita memandang masalah.

 

Contohnya dalam menghadapi bullying. Seperti di novel Reason (Aditia Yudis, penerbit Noura Books), tokoh utama yang bernama Adeline mengalami bullying oleh cewek populer di sekolah. Keadaan berbalik ketika Adeline bisa melakukan balas dendam. Sebagai korban bullying, ketika ada kesempatan untuk balas dendam, kita tergoda mengambil kesempatan itu. Dengan membaca buku ini, kita bisa belajar dari pengalaman Adeline, yaitu penyesalan Adeline karena balas dendam itu. Jadi, kita bisa mengganti keinginan balas dendam dengan melakukan hal lain, seperti mencari pertolongan dari sahabat, guru, atau orangtua.

 

Enggak hanya mengubah pola pikir, biblioterapi juga membantu menghilangkan tekanan emosional dan mengembangkan konsep diri yang dimiliki. Setiap tokoh dalam buku tentunya memiliki sifat yang bisa ditiru, dan dengan menempatkan diri sebagai tokoh tersebut, kita bisa mengimplementasikan sikap mereka ke dalam permasalahan kita.

 

Watch out!

Kita juga harus berhati-hati dalam memilih buku. Selain relevan dengan masalah, pastikan buku yang dipilih mendorong kita untuk berperilaku positif. Beberapa buku terkadang memiliki tokoh dengan sikap yang sebaiknya enggak ditiru, seperti terlalu sering melakukan tindakan kekerasan atau depresif yang berlebihan. Contohnya buku Thirteen Reasons Way karangan Jay Asher yang seolah membenarkan remaja bunuh diri untuk menyelesaikan masalah. The Perks Of Being A Wallflower dengan tokoh utama Charlie yang sangat pemalu dan tidak berani mengungkapkan pendapat. Kita juga bisa diskusi dengan orangtua atau guru untuk memilih buku yang tepat dan hasil yang didapat tentunya akan lebih maksimal. Selamat mencoba!

 

Klik di sini untuk mencari tahu beberapa judul buku yang cocok buat bibliotheraphy.

 

(iif, foto: fanpop.com)

 

author :

Redaksi Kawanku

Kawanku - Majalah Remaja Cewek

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN