6 Cara Mendekati Pelaku Bullying

Published by : Redaksi Kawanku Posted on : Sabtu, 21 Desember 2013

6 Cara Mendekati Pelaku Bullying

Pecaya enggak. Kalau sebenarnya pelaku itu juga menjadi korban karena dengan mem-bully, dia merugikan dirinya sendiri? Karena itu, menghadapi pelaku enggak bisa dengan kekerasan, girls. Karena, hanya akan membuat dia semakin menjadi-jadi. So, what should we do?

 

Aprishi, seorang pekerja sosial di salah satu panti asuhan pernah melakukan penelitian ke beberapa sekolah tentang bullying. Ini dia lakukan ketika masih kuliah di jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Aprishi bahkan pernah bertemu korban bullying yang melakukan percobaan bunuh diri, lho.

 

Ini membuatnya tergerak untuk mengkampanyekan anti bullying lewat blog www.carikapapaya.com di mana siapa aja bisa bercerita tentang pengalamannya menghadapi bullying. Aprishi juga mengeluarkan buku Cool In School, Buku Pintar Bergaul di Sekolah untuk membuat remaja sadar akan bahaya bullying. Dan berikut enam tips dari Aprishi yang bisa kita coba.

 

Alasan

Cari tahu apa yang membuat dia mem-bully. "Latar belakang berpengaruh dalam tindakan seseorang. Mungkin sebelumnya dia juga di-bully, atau di rumah mendapat kekerasan, atau dari pacarnya," saran Aprishi.

 

Tidak mengucilkan

Sebenci apa pun kita sama si pelaku, jangan pernah mengucilkannya karena hanya akan memperparah tindakannya.

 

Beri contoh

Jangan langsung memvonis dia bersalah karena kemungkinan pelaku ini akan defensif. Sebaiknya beri contoh kejadian lain yang mirip dengan tindakannya sehingga dia bisa melihat akibat dari perbuatannya.

 

Jangan memaksa

Sama seperti korban, pelaku juga enggak akan bisa dipaksa untuk berhenti. Mungkin awalnya mereka akan defensif, tapi kita bisa terus mendekatinya perlahan-lahan.

 

Kerjasama dengan pihak sekolah

Menurut Aprishi, dua hal utama yang membuat bullying banyak ditemukan di sekolah adalah sistem MOS dan adanya tempat yang enggak terjangkau oleh guru. "Selama MOS, guru kurang berperan dan murid seolah dapat fasilitas untuk 'mem-bully', jadi sebaiknya diubah seperti team building atau outbond. Lebih edukatif tapi tetap membuat murid lebih akrab," saran Aprishi.

 

Lapor

Biasanya guru kurang bisa bertindak karena kurang bukti. Ketika enggak sengaja melihat ada yang sedang mem-bully, enggak usah takut untuk melapor ke guru, girls.

 

(iif, foto: net)

 

author :

Redaksi Kawanku

Kawanku - Majalah Remaja Cewek

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN