6 Alasan Kenapa Kita Harus Mengurangi Pemakaian Botol Plastik

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Jumat, 18 Desember 2015

6 Alasan Kenapa Kita Harus Mengurangi Pemakaian Botol Plastik

Saat membeli air minum dalam kemasan botol, biaya terbesarnya keluar untuk membuat botol plastik. Apa dampaknya bagi lingkungan? Manufaktur, pengisian, pelabelan, pengiriman, penyimpanan dan pembuangan botol plastik amatlah mahal. Simak beberapa alasan mengapa kita harus mengurangi pembelian air minum dalam kemasan botol plastik.

(foto: realcleverscience.tumblr.com)

 

(Baca juga: 10 Ide Kreatif Daur Ulang Botol Plastik Bekas)

 

Minyak untuk Air

Kebanyakan botol plastik terbuat dari plastik polietilena tereftalat (PET), yang diproduksi dari minyak mentah. Tidak hanya ekstraksi minyak bumi yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca dan merusak habitat, namun produksi plastik juga membuang racun ke dalam lingkungan. Setelah ekstraksi, minyak dibawa ke kilang seperti ini di Köln, instalasi penyulingan minyak terbesar di Jerman.

 

Alternatif Bebas Minyak

Botol juga bisa dibuat dari plastik organik, yang diproduksi dari materi nabati seperti jagung atau tebu dan bukan minyak bumi. Plastik organik dapat terbiodegradasi dan dibuang ke kompos setelah dipakai, tapi ini bukan berarti bioplastik ramah lingkungan. Produksi bioplastik perlu sumber daya alam yang besar seperti air, dan lahan pertanian yang bisa digunakan untuk menanam tumbuhan pangan.

 

(Baca juga: Negara Paling Tinggi Tingkat Polusinya Di Dunia)

 

Transportasi dan Iklim

(foto: harishonim1.wikispaces.com)

 

Transportasi botol air minum juga butuh banyak sumber daya - lebih dari seliter BBM per botol, untuk sejumlah kasus. Institut Kebijakan Bumi memperkirakan satu dari empat botol air minum setidaknya melewati satu perbatasan negara dengan kapal, kereta atau truk sebelum dikonsumsi. Segala pengiriman mengeluarkan karbondioksida yang menyebabkan perubahan iklim.

 

Menguras Sumber Daya

Menurut perkiraan Institut Pasifik, produksi satu botol air minum memerlukan tiga kali jumlah air yang terkandung dalam botol. Juga di wilayah-wilayah yang menjadi lokasi pabrik pembotolan, ekstraksi air yang terkonsentrasi dapat menyebabkan penurunan permukaan air tanah, menyebabkan komunitas setempat kekurangan suplai air.

 

(Baca juga: Beras Plastik dan 5 Makanan Mengandung Bahan Berbahaya Lainnya)

 

Membotolkan Masalah

Menurut perkiraan, sekitar 60 juta botol plastik didaur ulang di Eropa tahun lalu - hanya separuh dari botol yang digunakan. Sisanya berakhir menjadi sampah, dibuang ke tempat pembuangan sampah dan perairan - di mana butuh ratusan tahun untuk terurai. Sampah plastik di lautan adalah masalah lingkungan besar, mengotori air dan mengancam kehidupan satwa laut serta burung.

 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ahli biologi kelautan Richard Thompson dari Plymouth University menyimpulkan bahwa setiap satu kilometer persegi laut mengandung empat miliar serat plastik dengan ukuran paling panjang dua hingga tiga centimeter. Namun ketika kita menyelam lebih dalam, maka akan menemukan empat kali lebih banyak sampah plastik dari pada di permukaan air.

 

(Baca juga: 10 Kota Paling Bersih di Dunia)

 

Timbunan Plastik

(foto: huffingtonpost.com)

 

Amerika Serikat adalah konsumen botol air minum terbesar di dunia, namun Cina menempel ketat. Setiap tahun, puluhan miliar botol plastik diproduksi dan dikonsumsi hanya di Cina, menggunakan sekitar 18 juta ton minyak mentah. Permintaan atas botol air minum meningkat seiring pertumbuhan ekonomi Cina. Timbunan botol plastik seperti ini terus menggunung menunggu pemilahan untuk daur ulang.

 

Setiap tahunnya, hampir 3 juta ton sampah plastk di seluruh dunia berasal dari botol air minum kemasan sekali pakai. Khusus di Amerika Serikat, 80% botol-botol tersebut gagal untuk didaur ulang. Untuk mengatasinya, pilihlah botol-botol minuman yang bisa digunakan berkali-kali, seperti botol dari stainless steel atau yang bebas BPA.

 

(Baca juga: 9 Bahaya Sampah Plastik)

 

(Lutfi Fauziah/Sumber: Deutsche Welle Indonesia, National Geographic Indonesia)

 

author :

Astri Soeparyono

Digital Content Producer untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN