Suatu Sore, di Kala Hujan

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Kamis, 28 Agustus 2014

Suatu Sore, di Kala Hujan

"Kumohon...." Dunia di sekitarnya menggelap. Andrew berlutut dengan Reyna terbaring di hadapannya, mata terpejam dan genangan merah yang tercampur hujan terbentuk di sekitar tubuhnya. Lidah Andrew kaku, ia hampir tak sanggup menyelesaikan ucapannya. Namun lebih dari segalanya, ia tak sanggup kehilangan Reyna.

 

Sosok berjubah hitam itu berdiri tanpa menapak tanah. Hujan sama sekali tidak membasahinya ataupun sabit raksasa yang digenggamnya. Rupa tengkorak dengan mata yang kosong mengintip dari tudung kepalanya yang terpasang.

 

Ingatan dari beberapa menit yang lalu berkelebat dalam kepala Andrew, berputar dalam potongan gambar yang berlompatan.

 

 

Reyna menyukai alam, yang menjadi alasan mengapa mereka suka berhenti sejenak di pinggir jalan saat berkendara hanya untuk menikmati keindahan yang alam berikan. Awalnya Andrew menganggap bahwa itu adalah sebuah kebiasaan yang aneh, namun ia tak mempermasalahkannya, selama bisa melihat wajah tersenyum Reyna yang dibingkai rambut merahnya.

 

Reyna berkata, bahwa selalu ada hal yang spesial dari pepohonan untuknya. Mereka berbicara padanya, menyampaikan pesan dan menceritakan suatu kisah. Andrew bukan orang yang sangat imajinatif, dan pasti akan menanggap hal semacam itu omong kosong jika saja bukan Reyna yang mengatakannya. Namun kali ini, tanpa memaksa dirinya sendiri, ia dengan terkejut mampu menerima kata-kata itu.

 

Reyna berbeda, ia memang unik. Caranya memandang dunia berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Ia bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dan ia mengajak Andrew bersamanya, menuntunnya ke sebuah dunia ajaib yang sebelumnya tak pernah ia sadari ada.

 

Sebelum mengenal Reyna, kapan Andrew pernah benar-benar sadar terhadap keajaiban-keajaiban kecil di sekitarnya? Ia tak pernah sadar, akan keindahan daun-daun jingga yang berguguran, yang meliuk di udara menggantikan hujan. Atau keanggunan pegunungan yang dilapisi salju putih serupa gula dan sungai-sungai keperakan yang mengalir di dasar fjord.


Ia tak pernah sadar, akan hal-hal kecil dan remeh, namun sebenarnya memiliki arti tak terhingga yang selama ini dilewatkan olehnya. Reyna membuatnya membuka mata dan telinga, pada melodi deburan ombak, ritme tetesan hujan, embun pagi yang terkumpul di daun, dan hal-hal yang kecil namun indah lainnya. Andrew rasanya mampu bahagia hanya dengan membuka jendela kamarnya di pagi hari untuk mendengarkan kicauan burung bernyanyi untuknya.

 

Andrew merasa Reyna telah membantunya menjadi orang yang berkali lipat lebih baik. Yang lebih sadar, toleran, dan peduli terhadap sesama serta sekitarnya. Reyna adalah pusat dunianya, yang mengajarkannya bagaimana cara hidup sesungguhnya. Bahagia bukan hal yang sulit, begitu Reyna selalu berkata padanya.

 

Ia tak akan bisa membayangkan hidupnya tanpa Reyna.

 

Sore itu mereka memutuskan untuk mengambil rute favorit Reyna yang agak lebih jauh dan membelah hutan. Jalannnya tidak lebar, dan salah satu sisinya berada persis di tepi lembah yang curam. Andrew sebenarnya lebih suka menghindari jalur itu, namun ia tahu Reyna suka pemandangannya.

 

Sepanjang perjalanan mereka mengobrol dan tertawa seperti biasa. Lagu-lagu kuno tiga puluh tahun yang lalu diputar di saluran yang ditangkap oleh radio mobil, melantunkan melodi hangat yang mewarnai sore mereka dengan nostalgia.

 

Belum ada setengah jam mereka berkendara ketika hujan mulai turun. Ketika titik air pertama hinggap di kaca mobil, firasat buruk mulai merayapi dada Andrew. Tidak ada yang salah, namun ia tidak bisa menahan dirinya sendiri dari berpikir bahwa akan ada suatu hal buruk yang terjadi.

 

Tepat setelah ia berpikir begitu, kekhawatirannya terbukti. Entah bagaimana roda mobil menghantam sesuatu dan mereka tergelincir menuju lembah.

 

Reyna memekik. Andrew memejamkan mata. Entah mereka terguling atau hanya berzig-zag di antara pepohonan; ia tak bisa lagi mengendalikan laju mobilnya. Terdengar suara berdentum seakan-akan ada yang melangkah di atap mobil, disusul dengan suara sesemakan yang tercerabut. Kemudian bunyi tabrakan, dan Andrew merasakan tekanan keras di tubuhnya. Lalu segalanya berhenti, kecuali suara hujan yang semakin deras.

 

Andrew bisa merasakan sesuatu yang cair dan hangat bergerak menuruni dahinya, dan ia tahu bahwa itu adalah darahnya sendiri.

 

 "Reyna...?"

 

Ia lalu memanggil pelan, namun suara lembut yang ditunggu-tunggunya itu tidak kunjung menyahut. Nyeri memeluknya, seluruh tubuhnya protes saat ia berusaha bergerak. Matanya berputar, namun ia tetap berusaha melihat. Andrew menoleh ke kursi penumpang, dan napasnya tercekat. Nyeri yang ia rasakan di seluruh tubuhnya kini berpusat di dadanya, berubah menjadi ribuan jarum-jarum kecil yang menembus dagingnya.

 

Andrew tidak lagi berpikir. Ia tidak tahu bagaimana dirinya berhasil membuka pintu yang telah penyok, lalu merangkak keluar dari mobil yang setengah hancur itu. Ia tidak tahu dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk bergerak, atau apa yang membuatnya masih bernapas ketika tubuhnya merangkak di rerumputan yang basah, mengitari mobil dan membuka pintu penumpang. Ia tidak tahu bagaimana tangannya yang penuh memar mengangkat Reyna dan mengeluarkannya dari mobil.

 

Dingin hujan menggigit kulitnya, perih menyeruak di lukanya. Tapi ketika melihat Reyna, semua itu menjadi tak lebih sakit dari gigitan semut. Kedua matanya tertutup, namun ia masih bernapas dengan lemah.

 

Andrew berusaha mencari jalan keluar, namun otaknya membeku. Tidak pernah ia merasa sepanik ini dalam hidupnya. Ia mengutuk dirinya sendiri, memaki dan berteriak dalam hati. Kenapa justru di saat seperti ini, tubuhnya mematung? Kenapa justru di saat seperti ini, ia tidak bisa melakukan apa-apa?!

 

Saat itulah, ia merasakan kehadiran sosok yang tak pernah ia temui sebelumnya.

 

Pertama, yang Andrew rasakan hanyalah dingin-lebih dingin dari apa pun. Lalu, Andrew melihatnya mewujud dari ketiadaan. Waktu seakan melambat saat itu, Andrew bisa melihat jelas dan merekam segalanya dengan mata. Dunia menggelap, kemudian semakin pekat hingga menjadi hitam, dan ia, dengan jubahnya yang sewarna batu bara, muncul di hadapannya dan Reyna. Detik itu pun, Andrew sudah tahu apa yang dilihatnya.

 

Ia sedang menatap perwujudan maut.

 

Sosok itu tidak bergerak. Jubahnya bagai terbuat dari asap, membuat siluetnya berdenyar dan ujung-ujung bayangannya melambai seperti tangan-tangan yang kelaparan.

 

Kemudian, sosok itu bergerak perlahan. Bilah sabit raksasa yang tergenggam di tangannya terlihat berkilau saat ia mendekati mereka. Andrew sudah tahu apa tujuannya, dan ia tak akan sanggup menghentikannya. Maka yang bisa dilakukannya hanyalah memohon, berharap segera terbangun dari mimpi buruk ini.

 

Ia tak pernah merasa begitu takut. Bukan pada sosok itu-jika ia mau, Maut boleh mengambil nyawanya kapan pun ia suka. Tapi tolong-jangan, jangan Reyna. Andrew takut kehilangan dirinya. Ia sangat takut. Ia membungkuk dan mendekap Reyna dalam pangkuannya.

 

Andrew menengadah.

 

Maut telah berada di hadapan mereka; sosoknya menjulang tinggi menutupi langit sore.

Maut mengangkat sabitnya perlahan, siap mengayun, dan Andrew berteriak sekeras-kerasnya. Suaranya pecah mengalahkan bunyi hujan. "Tunggu! Tolong, jangan! Jangan ambil Reyna! Kau boleh mengambil nyawaku sekarang, tapi jangan dia! Jangan dia!"

 

Seakan-akan tidak mendengar, sosok itu tidak menghentikan gerakannya. Andrew berteriak lagi, hingga tenggorokannya panas dan paru-parunya serasa ingin meledak, "TIDAK, JANGAN! AKU AKAN MELAKUKAN APA PUN ASALKAN REYNA SELAMAT! KAU TIDAK BISA MENGAMBILNYA SEKARANG! AKU MASIH INGIN DIA HIDUP, AKU MASIH INGIN REYNA DI SINI. AKU MASIH INGIN MEMILIKINYA, AKU MASIH INGIN MEMILIKINYA DI SINIII!"

 

Sabit itu berhenti di udara.

 

Andrew menatapnya, napasnya memburu. Gerakannya berhenti, apakah itu berarti ia bisa mendengar Andrew? Apakah ia sedang mempertimbangkan ucapan Andrew? Apakah ia akan membiarkan Reyna hidup? Yang mana pun, Andrew hanya berharap kalau Reyna selamat-tidak peduli bagaimana caranya, bahkan jika ia harus menukarnya dengan nyawanya sendiri. Tubuhnya gemetar dan suaranya bergetar, tapi ia terus bicara, "Kau bisa mendengarku, kan? Tolong jangan ambil Reyna. Aku bersedia menggantikannya jika memang harus. Tapi tolong jangan ambil dia. Aku mencintainya, aku ingin Reyna ada di sini. Aku masih ingin memilikinya, aku-"

 

"Sayangnya," suara Maut berdengung di dalam kepalanya meski mulutnya tidak bergerak, dan Andrew seketika tercekat, "ia memang bukanlah milikmu sejak awal."

 

Kali ini, tubuh Andrew benar-benar tidak bisa digerakkan meski ia sudah memaksa sekeras yang ia bisa. Napasnya berhenti. Mulutnya kaku. Teriakannya tertahan. Sekali lagi, ia menyaksikan segalanya dengan sangat lambat. Andrew bisa melihat setiap pergerakan dalam milidetik, setiap tetesan hujan yang berpacu dengan deburan jantung, dan setiap denyar asap yang melecut dari sosok Maut. Namun ia dan Maut berada dalam kecepatan serta keberadaan yang berbeda, dan semua itu hanya bisa disaksikannya; tanpa gerakan, tanpa teriakan.

 

Dan Andrew tidak bisa melakukan apa-apa saat sabit itu turun ke bawah, menyelesaikan gerakannya.

 

(oleh alliya riva, foto: giphy.com)

 

*fjord: laut kecil di antara tebing curam

 

 

author :

Astri Soeparyono

Digital Content Producer untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN