Neapolitan-kun, Suki Da!

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Sabtu, 20 Juli 2013

Neapolitan-kun, Suki Da!

YIC tidak ragu lagi adalah tempat pas untuk berlindung dari terik matahari sadis siang hari di Yogyakarta. Kedai es krim itu menyuguhkan serangkaian menu yang selalu berhasil memanjakan Kayla. Presentasinya cantik-cantik. Lengkap rasanya kalau dinikmati di bawah hawa sejuk AC sembari mencemooh jalan raya gosong dari balik jendela.

 

            Sejak pindah ke SMP swasta di Yogyakarta, Kayla suka sekali mampir ke YIC. Vera dan Jeje punya banyak stok cerita lucu dan gosip di sekolah mereka. Jam dua siang, ketiganya duduk di meja istimewa mereka, yaitu meja lingkaran kecil di pojok, dekat AC dan jendela. Vera mencoba menu berbeda setiap harinya. Jeje lebih sering memesan sundae, tapi rasanya berbeda-beda. Sedang Kayla itu melulu yang dipesannya. Apalagi kalau bukan es krim tiga rasa: Neapolitan.

 

            "Enggak bosan apa?" alis Vera menyatu di bawah poninya.

 

            "Iya, sekali-kali coba dong menu lain! Es krim kan enggak cuma Neapolitan," Jeje menimpali.

 

            Kayla cuma nyengir kuda. Pertanyaan itu sudah didengarnya ribuan kali dari orang yang sama. Tidak pernah satu kali pun Kayla menanggapi dengan jawaban lebih dari dua kata. Memang ada cerita di antara Kayla dan es krim Neapolitan. Tapi cerita itu bukan untuk didengar semua orang. Kayla senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian delapan tahun lalu. Ya, sebuah peristiwa yang melekat dalam ingatannya: pertemuan pertamanya dengan seorang anak laki-laki penggemar Neapolitan. Dan meski jarak dan waktu memisahkan, ia tak akan pernah lupa "Neapolitan-kun".

 

**

 

            Delapan tahun yang lalu....

 

            Kayla kecil menempelkan muka pada kaca etalase toko es krim. Mulutnya terbuka, membentuk huruf 'o'. Jemarinya mengembang di kanan-kirinya. Mata bulatnya bersinar melihat enam pilihan rasa es krim di depannya. Kayla suka es krim. Dan ketika hati Mama luruh juga oleh puppy eyes-nya, Kayla tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas langka itu. Tapi giliran dia sampai di antrean terdepan, hati kecilnya terpilin beragam menu menggiurkan. Kayla ingin mencicipi semuanya, kalau uang pemberian Mama cukup. Sayangnya, Mama menegaskan hanya satu menu saja.

 

            "Bingung?" seorang anak laki-laki bermata sipit menepuk bahunya dari belakang. Tampaknya ada yang tidak sabar menunggu Kayla kecil menyuarakan pesanannya. Bocah itu tidak menunggu Kayla menoleh, apalagi menyadari keberadaannya. Ketidaksabaran yang berkobar dalam dirinya mendorong anak laki-laki itu bertanya lancar, "Suka rasa apa?"

 

            Kayla mengedipkan mata besarnya. "Stroberi." Setitik air liur menyembul dari sudut bibirnya. "Tapi 'Ayla juga pengin yang putih sama cokelat." Gadis kecil itu menunjuk box vanila dan cokelat bergantian.

 

            "Heee," anak laki-laki di sampingnya bergumam. Mata hitamnya tekun mempelajari menu di selebaran yang halamannya dia bolak-balik. "Neapolitan, mau? Kamu bisa dapat tiga rasa sekaligus!"

 

            "Beneran?" Kayla membeliak. "'Ayla bisa makan stroberi? Sama yang putih? Sama yang coklat?"

 

            Si anak laki-laki mengangguk mengiyakan. Senyum membelah wajah manisnya. Rambut hitamnya jatuh lembut di dahinya. Lalu, dia mendongak dan bicara pada kasir, "Kak, Neapolitan dua!" Dua jarinya teracung di udara. Ketika pesanan sampai di tangan mungilnya, dia angsurkan salah satunya ke Kayla yang berjingkat-jingkat di sebelahnya. "Nih."

 

            Kayla mengambil miliknya. Kedua bocah itu segera saling memamerkan cengiran identik. "Makasih...um, namamu siapa?"

 

            Tentu saja, setelah masing-masing menyebutkan nama dan berjabat tangan, Kayla kecil tidak bisa ingat suku-suku kata aneh yang merajut nama bocah bermata sipit itu. Dia hanya bisa menangkap bunyi "-kun" dari dua orang dewasa yang mendampingi dengan sabar teman barunya itu. Kayla tidak tahu bunyi itu lazim disandangkan di belakang nama anak laki-laki Jepang. Dan ketika ditanya Mama, Kayla cuma bisa menjawab, "Neapolitan-kun yang beliin 'Ayla es krim."

 

*

 

           "Iiih, senyum-senyum sendiri!" suara lantang Vera memecah kedamaian YIC, membuat kepala-kepala menoleh ke trio sahabat itu.

 

            Jeje terbahak, sementara muka Kayla bersemu merah. "Kapan?!" tantangnya sengit, meski dia tahu jawaban Vera terlampau nyata. Saking tenggelamnya di kenangan manis masa lalu, dia sampai tidak sadar kalau bibirnya menyunggingkan senyum.

 

            "Enggak usah pura-pura!" Vera terkikik, bercanda. Khusus Kayla si cewek populer tapi enggak pernah pacaran, Vera suka menggodanya. "Lagi mimpiin siapa, hayo ngaku!"

 

            "Siapa nih? Siapa?" Jeje tidak membantu. Anak itu malah mencondongkan tubuhnya ke meja, tertarik. "Kak Stefan, ya?"

 

            "Enak aja!" sanggah Kayla, panik di atas kursinya. Matanya melotot memperingatkan, kontras sekali dengan warna merah cerah cemerlang di pipinya. "Kak Stefan itu ketua OSIS dan aku bendahara. There's nothing between us. Owari."

 

            Vera memandangnya skeptis. Jeje geleng-geleng kepala, "Bisa berapa bahasa, sih, kamu? Inggris? Jawa? Indonesia? Jepang? Prancis?" Gadis berkulit sawo matang itu memang salah satu dari teman Kayla yang selalu menjadikan yang disebut belakangan sasaran kuis kosakata Bahasa Inggris.

 

            "Indonesia, Inggris, Jepang," Kayla menghitung jarinya. Hidup bersama orangtua yang sering mondar-mandir Jepang-Indonesia memberinya keterampilan plus.

 

            "Ah!" Vera tiba-tiba duduk tegak, memancing perhatian dua sahabatnya. Tapi fokus Vera tertuju pada pintu masuk kedai. Gadis berkuncir dua itu melambai-lambai bersemangat pada pengunjung baru YIC sambil berseru, "Leon! Sebelah sini!"

 

            Kayla menaikkan alis. Baru pertama kali itu Vera mengajak orang lain bergabung ke meja mereka. Bukannya Kayla merasa jengah atau apa, dia hanya terkejut saja. Melihat Jeje memasang ekspresi serupa, tampaknya Vera memang menjadikan hal ini kejutan.

 

            Seorang pemuda pendek mendekat. Kulitnya agak sawo matang. Perawakannya kurus dan kecil. Wajah manis dengan mata sipit dan senyum yang bikin semua gadis dag-dig-dug difigura rambut hitam ber-style shaggy. Kalau bukan karena aura familiar yang terpancar dari sosok baru itu, Kayla tidak akan menekuni Neapolitan-nya.

 

            "Halo," suara Leon serak, khas anak laki-laki di tengah masa puber. Dia mengulurkan tangan, yang segera disambut oleh Jeje, Vera, kemudian Kayla. "Namaku Napoleon, dari kelas 8-B," ruangnya cuma di sebelah kelas si trio, "Sepupunya Vera." Ketika ia dan Kayla tak sengaja bertemu mata, keduanya membeku agak lama sampai Leon menemukan lagi suaranya, "Kayaknya pernah ketemu, deh. 'Ayla, bukan?"

 

            Es krim Jeje muncrat dari mulutnya. Vera tersedak tawa, "Astaga, Kayla, kamu kenalan sama sepupu gue pake nama bayi lo?!" Muka Kayla serasa terbakar. Dicubitnya lengan karibnya itu sehingga si kuncir dua melengking kesakitan dan berhenti tertawa. Tapi perhatiannya direbut kembali oleh si cowok yang sudah menaruh bokong di satu kursi sisa, di antara Kayla dan Jeje.

 

            "Masih ingat gue, enggak?" Leon menunjuk hidungnya sendiri. Cengiran lebarnya seperti setrum di benak Kayla. "Dulu kita ketemu waktu kita masih kecil." Mulutnya mulai mencecar Kayla dengan cerita masa lalunya. "Ingat Neapolitan? Wah, sekarang lo juga lagi makan Neapolitan, y-"

 

            Kata-kata itu tidak pernah selesai gara-gara Kayla memekik, "Neapolitan-kun!

 

           Vera dan Jeje memandangnya bingung. Napoleon ketawa, "Kamu cuma ingat es krim Neapolitan-nya daripada nama gue toh. Jaa, genki desu ka?


            "Un, genki desu," jawaban Kayla hampir terdengar otomatis. Dia masih tidak percaya kalau cowok yang tengah duduk di sampingnya itu adalah anak laki-laki kecil yang dulu mengangsurkan Neapolitan lezat padanya. Anak laki-laki yang membuatnya jatuh cinta pada es krim tiga rasa itu. Fakta dua sahabatnya buta bahasa Jepang tidak menyentuh benaknya yang sedang mencari-cari memori tentang "Neapolitan-kun".

 

            Sementara Vera dan Jeje terperangah menyaksikan percakapan berbahasa asing itu terjadi begitu lancar dan fasihnya di hadapan mereka, Kayla dan Leon seolah terserap ke acara kangen-kangenan.

 

            "Neapolitan-kun ga suki? 

 

            "Hai, suki desu.

            "Jaa, ore to tsukiatte kureru?

            "Eh?!" Kayla membelalak.

 

            Dua sahabatnya ikut membelalak, walau tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Bahasa Indonesia, please," gumam Jeje. Vera mengangguk. Tapi Leon dan Kayla seperti tidak mendengarkan. Atau sengaja?

 

            "Deatta toki kara, ore wa kimi ga mou daisuki datta. Ima mo mada kimi ga suki.


"Leon terus menatap Kayla saat mengucapkannya. Ada hint kesungguhan hati di matanya.

 

            Kayla pun tak ragu lagi menjawab ajakan kencan itu, "Un."

            "BAHASA INDONESIA, PLEASE!" seruan Vera dan Jeje menggemparkan kedai, meruntuhkan suasana Kayla dan Leon. Tapi keduanya hanya tertawa renyah dan menolak menjelaskan.

 

            "No replay," kata Leon final.

***

 

(Oleh: Alva Septiantya, foto: weheartit.com) 

Jaa, genki desu ka? = Jadi, apa kabar?

Un, genki desu = Iya (bahasa gaul/biasa), kabar baik

Napolitan-kun ga suki? = Kamu suka Napolitan-kun?

Hai, suki desu = Iya (bahasa sopan/formal), suka

Jaa, ore to tsukiatte kureru? = Kalau begitu, jadian sama aku yuk?

Deatta toki kara, ore wa kimi ga mou daisuki datta. Ima mo mada kimi ga suki. = Aku sudah suka kamu sejak pertama kali kita ketemu. Sekarang juga aku masih suka sama kamu.

Un = Iya (bahasa gaul/biasa)

 

 

author :

Astri Soeparyono

Digital Content Producer untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN