LOLLIPOP

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Sabtu, 13 April 2013

LOLLIPOP

Seperti dugaanku, hari ini Kak Reza datang ke perpustakaan dan duduk di kursi dekat ruangan multimedia seperti biasa. Aku juga sudah meletakkan permen lollipop rasa jeruk di atas meja seperti biasa. Jika tak ada aral melintang, seperti biasanya, dia akan memakan permen itu sambil membaca novel detektif Sherlock Holmes berbahasa Inggris, kesukaannya.

 

Kenalkan, aku Abby. Itu bukanlah nama asliku. Nama asliku adalah Anisah Putri Lestari. Aku dipanggil dengan nama itu oleh teman-temanku karena bobot tubuhku yang sedikit lebih dari bobot normal, terutama di bagian pipi. Abby does stand for Anisah Chubby....

 

Aku sekarang memang sedang kasmaran. Aku jatuh cinta pada seniorku yang dua tingkat di atasku. Dua minggu lalu aku kagum melihatnya berpidato dalam Bahasa Inggris dalam rangka lomba debat Bahasa Inggris yang diadakan oleh sekolah kami. Rasa kagum itu berubah menjadi lebih saat aku menemukannya sedang sendirian di ruang musik dan bermain piano sambil menyanyikan salah satu lagu kesukaanku, Leaving on a Jet Plane.

 

Sudah seminggu ini di jam istirahat aku rajin ke perpustakaan hanya demi memberikannya setangkai lollipop rasa jeruk setiap harinya. Aku pasti sudah gila. Kak Reza cepat atau lambat pasti akan curiga. Entah apa yang ada di pikirannya saat dia menemukan lollipop jeruk itu. Untuk sehari dua hari, dia pasti akan mengira permen itu hanyalah barang ketinggalan. Tapi untuk seminggu berturut-turut, dia pasti mengira ada seseorang yang diam-diam menguntitnya tanpa mampu bertatap muka langsung. That's me....

 

Kak Reza masih sibuk membaca novelnya. Hari ini dia akan lebih lama di perpustakaan. Guru Matematika yang mengajar di kelas Kak Reza sedang keluar kota dan hanya akan menitipkan tugas. See! Aku sekarang bahkan terlihat seperti psycho.

 

Tak sampai 10 menit kemudian kak Reza meraih lollipop yang 'kupajang' di sana. Yes! Ya, pada kenyataannya dia memang hanya menerima lollipop itu, tapi entah mengapa lega yang kurasakan saat ini yaitu seperti kak Reza sedang menerima perasaanku. Absurd....

 

***

 

Pagi ini aku berjalan dengan senyum terkembang menuju kantin. Aku berniat untuk membeli beberapa tangkai lollipop jeruk untuk Kak Reza hari ini.

 

"Bu, ada lollipop yang jeruknya?" tanyaku sambil mengaduk-aduk toples yang berisi penuh lollipop dengan berbagai rasa, tapi belum menemukan warna yang kucari.

"Wah, kebetulan kalau yang jeruk memang habis dari kemarin sore, Dek. Kalau rasa yang lain sih masih ada," kata ibu kantin dengan sedikit murung. Mungkin beliau ikut sedih dengan ekspresi syok yang kuhasilkan beberapa saat yang lalu.

Aku menutup toples itu. Sedikit menunduk ke ibu kantin, lalu berjalan ke luar dari kantin dengan wajah murung.

 

"Honey!" suara laki-laki terdengar dari sisi belakangku. Sepertinya sedang memanggil seseorang.

 

Honey? Aku tersenyum kecil. Sapaan yang manis untuk sepasang kekasih.

 

"Hey!" seorang wanita di sebelahku berteriak menjawab sapaan tadi.

 

Sedikit penasaran, aku kemudian berbalik mengikuti arah wanita tadi pergi. Ada Kak Reza di sana. Itu, suara Kak Reza. Honey....

 

***

 

Sudah 2 bulan aku berusaha move on dari kak Reza. Aku sengaja tidak ke perpustakaan dan bahkan menghindari ruang musik. Tapi aku masih mengkonsumsi permen lollipop jeruk sampai bulan lalu. Saat itu berat badanku mencapai puncaknya. Aku tidak bisa mengontrol diriku untuk membatasi keinginanku memakan permen lollipop jeruk dan berbagai cemilan lainnya. Dan sampai saat Mama marah dan tidak bisa mentolerir bobotku yang kian bertambah, aku menyerah dan berjanji dalam hati untuk berhenti makan lollipop jeruk itu.

 

Dengan bantuan Mama, aku menjalankan hidup sehat dengan sedikit diet. Tubuhku kini tak seperti sedia kala. Pipiku pun sudah tidak se-chubby dulu. Tapi teman-teman masih saja memanggilku Abby. Namun setidaknya sekarang aku bisa lebih percaya diri dengan sosokku yang sekarang.

 

Dan entah mengapa hari ini aku sangat merindukan untuk ke ruangan musik dan bermain piano. Sore hari ketika pelajaran telah usai, aku pergi ke ruang musik. Memeluk beberapa instrumen lalu duduk di depan piano. Menyanyikan lagu Leaving on a Jet Plane....

 

***

 

Untuk beberapa kejadian yang aku sendiri kesal jika mengingatnya, keadaan sekarang justru memaksaku berada di perpustakaan untuk membereskan buku-buku yang berserakan di meja.

 

"Seharusnya orang yang membaca ini yang harus membereskannya!" gerutuku sambil terus merapikan buku dari meja ke meja.

 

"Kau ada di sini juga?" seseorang menyapaku.

 

Oh my God! Kak Reza? Aku berani bertaruh kak Reza pasti dapat menyadari wajah shock-ku.

 

Aku hanya mengangguk sambil memeluk buku yang baru saja akan kubereskan.

 

"Kau baik sekali mau membantu Pak Iwan," kata Kak Reza sambil memamerkan senyum 100 watt.

 

Aku yang syok bercampur bingung akhirnya bersuara. "Pak Iwan?"

 

"Iya. Pak Iwan petugas perpustakaan yang sedang sakit hari ini. Kau datang karena itu kan?"

 

"Hm.... Bukan, Kak." jawabku sambil tersenyum kecut.

 

Aku berharap dia tak bertanya mengapa aku ada di sini sekarang.

 

"Lalu mengapa kau ada di sini sekarang?" tanyanya ramah.

 

Aku tertawa kecil sambil menunduk lalu menggaruk kepalaku yang tak gatal. "Aku bermain piano."

 

"Ya." Bola mata kak Reza melihat ke segala arah, bingung. "Lagu apa?" lanjutnya.

 

Aku menelan ludah. "Leaving on a Jet Plane."

 

"Ada masalah dengan lagu itu?"

 

"Aku menyanyikannya saat sedang ada rapat guru di atas ruang musik, Kak," jawabku datar. Aku berharap dia berhenti bertanya.

 

"Kukira itu lagu mellow," kak Reza terus menanggapi.

 

Aku mengangkat wajahku. "Rock version."

 

"Pfft. Hahahahaha," tawa kak Reza meledak. "Jadi kau sedang dihukum?" tanyanya di tengah-tengah tawanya.

 

Aku mengangguk sambil membuang wajahku malu.

 

"Hahahaha, itu memalukan," lanjutnya.

 

Dengan sedikit kesal aku memandangnya.

 

"Ehem, sorry," Kak Reza berusaha menghentikan tawanya. "Kau tahu? Aku juga punya cerita yang memalukan," lanjutnya.

 

Tak ada respon berarti dariku, dia melanjutkan ceritanya. "Aku pernah tertidur dan bermalam di perpustakaan ini."

 

"Kenapa?" Semoga dia mau menjawab dan tidak berpikir bahwa aku orang yang kepo.

 

"Aku menunggu. Biasanya ada di sini," Kak Reza menunjuk meja yang biasa dia tempati.

 

"Apa?"

 

"Lollipop jeruk."

 

Aku terbelalak mendengar jawaban Kak Reza.

 

"Aku tak begitu suka rasa jeruk yang kecut, tapi lollipop itu berbeda. Mungkin aku sempat jatuh hati pada orang yang memberiku lollipop itu."

 

Aku tertawa kecil. "Kak Reza, kan, ada pacar saat itu. Aku pernah lihat kak Reza manggil cewek di kantin dengan 'honey'."

 

"Honey?" Kak Reza tampak sedikit bingung. Dua detik kemudian dia tersenyum seperti teringat sesuatu. "Ah. Maksudmu Hani? H.A.N.I? Dia teman kelasku, bukan pacar."

 

Aku tertegun. Aku butuh waktu untuk mencerna ini satu per satu.

 

"Ayo! Kita harus segera membereskan ini. Kau tidak mau bermalam di sini, kan?" goda kak Reza.

 

"Kak Reza..."

 

"Iya Nis, kenapa?" ucapnya masih sibuk membereskan buku.

 

Gee, dia tahu namaku? "Nisa?"

 

"Kau dipanggil Abby kan? Namamu Nisa, kan?" Dia berhenti sejenak lalu berkata, "Aku juga tahu kau suka lollipop jeruk."

 

Aku terdiam beberapa saat. "Mau coba lollipop strawberry?" senyumku.

 

 

(oleh: hilmah anisah, foto: imgfave.com)

 

author :

Astri Soeparyono

Managing Editor untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN