Lemon

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Rabu, 15 Oktober 2014

Cantik Dengan si Kuning Lemon

Apakah kamu pernah memperhatikan bentuk-bentuk di dunia ini? Ada segi empat, ada bulat, segi tiga. Bentuk bulat adalah yang paling sering kujumpai. Ada pada lemon. Semua orang tahu bagaimana bentuk lemon. Kecil. Apa Tuhan tidak adil?

 

            "Dindaaa! Bawa lemon-lemonnya ke sini!"

 

            And here I am. Seseorang yang akrab dengan lemon. Anak dari tukang kebun lemon. Yang teriak barusan itu: Mama. Oh ya FYI, namaku Dinda.

 

***

 

"Jadi kabar itu bener?" Liana menarik-narik rambutku. "Ada penjual yang mau ngeborong semua lemon di kebunmu?"

 

"Iya, tapi gak harus narik-narik rambut segala kali," aku memperbaiki kunciran rambutku. Mulut Liana tampak miring-miring ke kiri dan kanan. Seperti ingin menyemburku dengan sejuta katanya. Pasti dia ingin bilang, 'Salah sendiri gak pake kerudung,' dan bla-bla-bla. Ah, itu lagi.

 

Bukan aku gak mau pakai kerudung. Sebenarnya aku juga ingin....

 

 "Gitu aja ngambek. Aku enggak akan bahas kerudung lagi, kok," Liana menarik-narik lengan bajuku.

 

Tumben, batinku.

 

"Karena aku memang suka ngisengin orang, termasuk kamu. Bukan karena berkerudung atau enggak." Aku kaget mendengar pengakuannya, "Kalo kamu pakai kerudung, bisa jadi aku narik-narik kerudung kamu. Atau nyoretin kaus kaki kamu. Atau ngumpetin sepatu kamu pas lagi sholat."

 

Dubrak!

 

***

 

 

Hari itu adalah hari yang paling bahagia buatku. Empat September. Saat seluruh dunia memperingatinya sebagai hari hijab internasional. Wush! Tapi eng ... sebenarnya di tanggal ini, aku belum mengenakannya, sih. Tapi aku berusaha melakukan itu. Setidaknya selangkah lebih dekat.

 

            Benar. Aku sedang menyirami lemon-lemon di kebun.

 

            Mungkin secara kasat mata enggak ada hubungannya antara lemon dan kerudung. Tapi  buatku hubungannya sangat erat. Sangat.

 

            Lemon adalah hidup. Hidupku dan juga orang tuaku. Sepetak tanah dengan pohon lemon adalah peninggalan ayah. Hasil dari penjualan lemon biasa kami pakai untuk membeli beras, keperluan sekolah, kebutuhan hidup lainnya termasuk ... membeli kerudung dan seragam panjang yang baru.

 

            Well, maka dari itu aku sangat berharap lemon-lemon ini tumbuh besar. Berat. Dan pokoknya kualitas super. Terbayang olehku, setiap lemon dibeli dengan ukuran kilogram atau ukuran keranjang. Mungkin nanti, ada beberapa helai kerudung di lemariku.

 

            Ah, kenapa ukuran lemon begitu kecil? Tuhan itu kan Maha Adil ...

 

***

 

Dan, inilah saat menuai apa yang telah kami semai. Panen. Aku dan Mama sibuk memetik semua lemon yang sudah cukup umur.

 

"Memangnya penjual itu siapa sih, Ma?" Kubungkus setiap lemon kecil yang sedang tumbuh. Agar tidak dimakan kumbang, "Kok mau, ya, beli semua lemon kita ..."

 

"Itu penjual di sebelah pasar ikan."

 

            "Oh, yang jualan buah di kios ya, Ma?" Mama mengangguk.

 

            Ah, sebenarnya aku sayang menjual lemon-lemon ini. Tapi lemon ini memang untuk dijual, kecuali beberapa kantung kecil untuk persediaan di rumah. Semoga saja besok pekerjaan ini rapih. Dan segera bisa dibawa oleh pembelinya.

 

            Aku jadi terbayang bagaimana kagetnya muka Liana melihat aku yang menggunakan kerudung. Pasti dia akan ikut senang. Setidaknya dia akan punya kejahilan baru seperti menyembunyikan sepatuku atau yang lainnya.

 

            Entah kenapa, aku jadi meneteskan airmata. Ah, aku yang tomboy ini akhirnya pakai kerudung ... Cepat-cepat kuseka airmata, agar tidak terlihat oleh mama.

 

***

 

            "Lin," kutepuk pundak Liana saat jam istirahat. Liana segera menatapku heran, "Kamu kebayang enggak kalau suatu saat nanti aku pakai kerudung?"

 

            Kali ini tatapan Liana tiga kali lipat lebih heran.

 

            "Bisa jadi kamu enggak lihat aku yang tomboy lagi, Lin ..." Entah, aku jadi duduk di sebelahnya dan menundukkan kepala.

 

            "Kerudung enggak akan mengubah sifat ceriamu, kok. Kerudung cuma menuntup tubuhmu," Liana menggenggam tanganku selayaknya seorang sahabat yang menguatkan.

 

            "Ah, kamu bisa bijak juga, Lin...," kuseka airmata. Akhir-akhir ini rasanya aku jadi cengeng. Nanti kalau sudah berkerudung, aku enggak mau cengeng lagi. Janji.

 

            "You're welcome, Sis ... kita harus saling percaya. Tapi ..." kata-kata Liana berhenti," Kamu harus maafin aku. Karena percaya atau enggak ... tadi aku ngiket tali sepatumu ke kaki meja."

 

            "A-apa?" Aku enggak percaya.

 

            Liana manggut-manggut.

 

Dengan kesal hatiku bertanya-tanya: Kok Bisa???

 

***

 

 

Aku bingung kenapa keranjang-keranjang lemon itu masih ada di teras rumah. Bukankah, harusnya tadi pagi seluruh lemon sudah dijemput pembeli. Penjual buah dengan kiosnya di sebelah pasar ikan.

 

            Kakiku tak berhenti membuka pintu rumah.

 

            "Ma... Mama...?" Tak ada jawaban dari Mama. Aku berlari ke dapur. Ke kamar, ke loteng. Ke warung Bi Inah. Tapi Mama tak ada.

 

            Kutemukan ponsel butut milik Mama. Ada sebuah pesan yang sudah terbuka. Dari sebuah nomor, entah nomor siapa.

 

            Aku tak bisa menahan diri untuk tidak membacanya. Kueja setiap huruf dengan cepat. Dan aku tahu. Tahu bahwa, pasar ikan dan kios di sebelahnya telah terbakar. Pagi tadi. Lalu... aku tidak tahu harus bilang apa saat memandangi keranjang-keranjang, berisi ratusan lemon itu.

 

***

 

"Ma, apa Tuhan enggak suka Dinda pakai kerudung?" kupandang Mama yang duduk di teras depan rumah. Mama cuma diam. "Kenapa kebakaran itu datang tiba-tiba? Kenapa harus di saat lemon kita siap dibeli orang?"

 

Mama masih diam. Tapi aku yakin, kilauan bintang di langit sana tetap berpendar. Tak padam, tak juga diam.

 

            Kuambil sebuah lemon. Kukupas dengan kedua tangan. Tanpa dicuci. Rasa kecut menyebar ke seluruh lidah saat aku menggigit lemon itu. Asam. Tapi jauh lebih asam apa yang kurasakan.

 

            Setelah itu aku tak merasakan apa pun kecuali pelukan mama dan bisikan-bisikan hangatnya, "Tuhan sayang kita. Kamu enggak boleh menyakiti diri sendiri.... Tuhan sayang kita. Tuhan sayang kita. Tuhan sayang kita. Tuhan sayang kita. Tuhan sayang kita. Tuhan sayang kita."

 

***

 

Hari kerudung sedunia memang sudah lewat. Jauh berhari-hari yang lalu. Tapi di hari inilah, aku berdiri dengan sebuah kerudung.

 

Liana, temanku yang jahil itu punya kebiasaan baru. Bukan, bukan menyembunyikan sepatuku. Bukan juga menarik-narik kerudungku. Tapi sibuk mengajarkanku cara berkerudung yang baik dan cantik, dan juga yang tentu saja yang, ehm ... irit.

 

Keranjang-keranjang lemon itu? Aku dan mama menjualnya langsung ke pasar lain. Dan kamu tahu kenapa lemon itu berukuran kecil? Bukan karena Tuhan tidak adil. Tapi karena sedikit asam pun cukup, untuk membuat kita mengerti, tentang kehidupan yang begitu ... manis.

 

(oleh: Rizki D Utami, foto ilustrasi: reddit.com, buzzfeed.com)

 

author :

Astri Soeparyono

Managing Editor untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN