It Means....

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Sabtu, 26 Oktober 2013

It Means....

Ini tentang cowok yang tinggal di sebelah rumahku. Cowok yang menyebabkan semua kegilaan yang terjadi di separuh umurku (dia pindah ke sebelah rumahku ketika aku berumur 9 tahun). Ia cowok yang penuh dengan keanehan. Tak terbayangkan bagaimana aku bisa menghabisi hari-hariku bersama cowok itu sampai saat ini. Hari-hari yang penuh dengan untaian kata benci dan sumpah serapah.

 

And the story begins.

Semua orang punya hal-hal yang mereka sukai juga yang mereka benci. Layaknya aku yang membenci awan panas di siang hari apalagi ketika musim gugur. Tentu saja. Kau juga akan merasakan hal yang sama denganku ketika kau harus membawa banyak tumpukan kertas berisikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ke ruangannya, padahal demi menuju tempat itu kau harus melewati lapangan kampus yang luas, koridor kakak kelas yang kotor (banyak sampah tergeletak mengenaskan di sana). Oh, abaikan ceritaku yang satu ini.

 

Kembali pada tujuan awal.

Meskipun aku masuk kedalam kategori perempuan yang tidak menyukai sebuah permusuhan, tetap saja aku punya seseorang  yang kubenci (hey, aku juga manusia dan berhak membenci seseorang). Lay, cowok berlesung pipi satu itu bisa tertera dalam list yang tercantum di belakang pintu kamarku. List yang berisikan hal-hal yang paling ku benci.

 

And it means, I hate Lay. So much.

Aku benci ketika Lay sibuk berceloteh tentang paginya. Bercerita tentang bagaimana ia menemukan kucing kesayangannya tengah buang air kecil ketika ia ingin mandi. Dan sialnya ada cicak putih bertengger di atap kamar mandinya dan ia akan berteriak sekencang mungkin mengganggu pagi para penghuni rumah karena takut cicak itu jatuh dan mengenai tubuhnya. Dan adiknya, Sehun, dengan senang hati menggedor-gedor pintu kamarnya agar ia berhenti berteriak (Sehun dan Lay tidak pernah akur). Atau bagaimana ia dimarahi ibunya karena ia tidak mencuci kemeja abu miliknya. Dan bukan itu masalahnya. Lay tidak mencucinya sejak kemeja itu mendekam di pojok kamarnya selama hampir sebulan.

 

"Aku tidak melihatnya ada di pojok kamarku. Sungguh"

 

Alasan Lay yang paling tidak bisa diterima oleh akal sehat. Atau ia tidak melihatnya karena kamarnya yang terlalu penuh dengan kaset-kaset berserakan, kertas-kertas berisi cerita yang ia buat dan tak pernah tamat juga kertas-kertas not lagu, yang tidak tertata rapi di meja belajar. Juga bajunya yang bisa dilihat di setiap sudut kamar. Dan yang terkahir, gitar cokelat miliknya yang ia simpan di atas TV (yang entah mengapa tidak jatuh sekalian agar ia bisa berhenti bermain gitar). Satu hal yang Lay tak bisa tinggalkan dalam kesehariannya. Bermain gitar yang beberapa senarnya sudah putus dengan asal dan ia melupakan keadaan ruangan pribadinya yang tak bisa lagi disebut kamar.

 

It means, Lay itu cowok terjorok yang pernah kukenal.

Aku benci Lay. Ketika ia sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Ia akan mengadu pada ibuku tentang hal-hal yang yang kukerjakan seharian. Tentang aku yang membolos pelajaran seni (aku benci seni karena aku tidak bisa menggambar). Juga ketika aku pulang larut malam karena menonton konser EXO di Mubank.  Padahal aku sudah mati-matian izin pada ibuku dengan alasan ingin mengerjakan tugas kelompok di rumah Luhan. Dan ibuku percaya.

 

"Aku mengatakan yang sebenarnya pada ibumu."

 

"Tapi kau sudah janji untuk tutup mulut."

 

"Aku tidak bisa berbohong pada ibumu."

 

Nah, sekarang Lay sedang berbohong. Bagaimana pun juga, Lay selalu benci terhadap apa yang aku lakukan. Ia akan mengatakan bahwa menonton konser EXO adalah sesuatu yang menjengkelkan dan ia akan berceleloteh bagaimana buruknya member EXO kepadaku. Lalu aku akan mengusirnya dari kamar karena ia terus menjelek-jelekkan boy band yang kusukai.

 

"Han ahjumma, anakmu benar-benar sudah gila terhadap member EXO,"

Dia mulai lagi!

 

It means, Lay itu cowok pengadu.

Aku benci Lay. Ketika kami mulai mempermasalahkan hal-hal sepele yang tidak ada artinya. Lay selalu menjadi orang yang memulai. Ia marah ketika aku melupakan janji untuk mengantarnya pergi membeli es krim di depan kompleks rumah. Padahal saat itu aku sedang sibuk dengan tugas praktikum yang menumpuk di meja belajarku. Atau dia akan mengacuhkanku hanya karena aku tidak mengucapkan selamat di hari ulang tahunnya dan saat itu aku benar-benar lupa meskipun pada akhirnya aku memberikan hadiah ulang tahun sehari setelahnya. Dia akan merengek ketika ia memintaku untuk membelikannya bubble tea di kafe langgangan kami dengan alasan ia lupa membawa uang.

 

"Belikan aku dulu. Akan kuganti uangmu nanti di rumah."

 

"Aku akan meminjamkannya, asalkan kau tidak membeli bubble tea."

 

"Tapi aku ingin bubble tea."

 

"Aku tidak punya uang lebih Lay," aku berdecak kesal. Bagaimana pun juga, aku masih bergantung dari pemberian orang tuaku. "Sehun bisa membelikannya untukmu" (Sehunnie sangat menyukai bubble tea, dan ia akan membelinya setiap ia pulang sekolah. Oh, keluarga mereka tidak seperti keluargaku yang harus membanting tulang demi kehidupan sehari-hari).

 

Wajah Lay sekarang berubah merengut. Dan itu menandakan bahwa ia mulai kesal terhadapku. Dengan tangan yang terlipat di depan dada juga bibir merahnya yang mengerucut. Lay sedang melakukan sebuah ritual permohonan terhadapku. Karena aku paling tidak tahan dengan sikapnya yang seperti itu. Bagiku itu menjijikkan. Lagipula, jika aku tidak menuruti kemauannya, Lay akan mendiamkan ku berhari-hari. Dan aku benci itu.

 

It means, Lay itu cowok yang kekanak-kanakkan.

Aku benci Lay. Ketika ia selalu melupakan hal-hal yang penting. Ia selalu lupa meminum susunya ketika ingin berangkat ke sekolah. Dan ketika ia kembali ke dalam rumah untuk meminum susunya ia akan melupakan jaketnya yang tertinggal di kursi. Lalu ketika masuk rumah untuk kedua kalinya, ia akan meninggalkan tablet kesayangannya (yang selalu Lay bawa kemana pun) di meja makan. Dan yang paling menderita adalah aku yang harus menunggunya padahal waktu sudah menunjukkan jam 06.45 yang berarti 15 menit lagi pelajaran akan dimulai.

 

"Aku tidak sengaja meninggalkannya."

 

Itu alasan yang terlalu sering kudengar bahkan sudah tak terhitung oleh jari. Dengan modal wajah yang ia buat-buat seperti orang yang benar-benar lupa, ia memintaku untuk mengambilkannya. Demi apa pun, aku benar-benar jengkel atas sifat pelupanya itu. Dan lebih bodohnya lagi, aku menuruti perintahnya (aku sudah gila karena takut terlambat).

 

"Kau harus menghapus memorimu yang sudah penuh dengan game tak berarti itu, Lay."

 

"Mereka pengisi waktu luangku."

 

"Oh Lay, mengapa kau begitu bodoh huh?" aku menjambak rambutku sendiri. Ini membuat syaraf otakku serasa ingin putus. "Jangan pikirkan yang tadi. Kita harus cepat ke sekolah, Lay."

 

"Tunggu!"

 

"Apalagi sekarang, huh?

 

"Aku lupa membawa buku Luhan yang kupinjam kemarin."

 

Damn!

 

It means, Lay itu cowok pelupa dan ceroboh.

Aku benci Lay. Ketika ia mengajakku bermain basket padahal hujan sedang turun dengan derasnya. Ia bilang ini tidak apa-apa. Padahal ia tahu kalau aku tidak kuat dengan hujan deras dan aku akan masuk angin. Atas paksaanya yang tak berperikemanusian dengan cara menarik tanganku hingga rasanya tanganku ingin lepas. Akhirnya aku terpaksa menemaninya. Dan saat itu juga, Lay menjadi orang yang paling bahagia di dunia.

 

"Aku hanya bermain sebentar. Aku janji."

 

Percuma percaya terhadap janji Lay. Karena ia akan lupa waktu jika sudah berurusan dengan hujan dan basket. Alhasil, keesokan harinya. Aku akan bergelung di selimutku yang bergambar Lilo and Stitch karena masuk angin. Memakan bubur yang tidak ada rasanya meskipun terkadang juga terlalu asin, juga obat rumah sakit yang terasa pahit. Dan Lay, akan datang ke rumahku dengan sejuta permohonan maafnya yang membuat kepalaku semakin pusing mendengarnya.

 

It means, Lay itu cowok yang terlalu perhatian terhadap hujan dan basket.

Dan satu hal lagi yang paling tidak kumengerti adalah Lay bisa masuk ke dalam list yang hanya tersimpan di dalam laci meja belajarku (aku menyimpannya di sana dan akan kukunci ketika aku pergi). List yang berisikan hal-hal yang kusukai. Dan jangan tanyakan mengapa aku menuliskan namanya begitu saja di sana. Karena yang aku tahu aku hanya ingin menuliskannya disana.

 

It means, I like Lay. So much.

Aku menyukai Lay. Ketika ia menyunggingkan senyum manisnya. Menyanyikan beberapa lagu yang ia hafal (sungguh, suara Lay tidak bisa dibilang jelek).  Meskipun lagu yang ia nyanyikan bukanlah lagu yang romantis seperti Someone Like You-nya Adele (ini lagu kesukaanku). Lay hanya hafal lagu-lagu Ost pengisi anime Jepang kesukaannya. Yang sama sekali tak kutahu judulnya. Ia menyanyikannya seakan ialah yang menciptakan lagu itu. Lay itu cowok yang punya stok kepercayaan diri yang tak pernah habis.

 

"Dengar, aku baru saja menghapal lagu Supercell yang Kimi No Shiranai Monogatari."

 

"Benarkah?"

 

"Ya. Dan aku akan menyanyikannya untukmu."

 

Ini waktunya konser Lay di kamarku. Ia akan mematikan lampu kamar, menutup gorden sehingga kamarku menjadi gelap. Lalu ia akan menyalakan lampu tidur tanpa seizinku. Kata Lay ini mirip konser. Dan sekarang ia mulai menyanyikan setiap baitnya. Dengan tubuh yang melompat ke sana-kemari (oh man, dia merusak kasurku!). Mic yang ia buat dari kertas karton dan kardus. Wajahnya yang tak bisa lagi diatur. Ini konser Lay yang seadanya.

 

It means, Lay itu cowok pengagum berat musik.

Aku menyukai Lay. Ketika ia sedang belajar dengan serius tanpa mau diganggu oleh siapa pun. Dengan optimisnya yang meledak-ledak meskipun aku tahu IQ-nya yang tak seberapa. Ia belajar dengan giat tanpa mengenal waktu. Aku pernah melihat kamarnya masih terang padahal jam sudah menunjukkan jam satu pagi (aku pergi ke kamar kecil waktu itu). Ketika aku menanyakan apa yang ia lakukan melalui pesan teks. Ia menjawab bahwa ia ada ulangan kimia esok hari. Itulah mengapa Lay selalu bangun telat.

 

"Aku belajar agar aku punya penghasilan tetap di kemudian hari,"

kata Lay ketika aku menanyakan mengapa ia terlalu sering belajar. Apa pun yang menyangkut tentang pelajaran akan ia tanggapi dengan serius. Kecuali jika seseorang mananyakan hal-hal di luar itu, Lay akan menjawab sekenanya. Apa pun yang ada di pikirannya. Dan terkadang itu membuatku jengkel.

 

It means, Lay itu cowok yang terlalu rajin.

Aku menyukai Lay dan aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan ini begitu banyak layaknya aku mendeskripsikan rasa benciku terhadapnya. Karena rasa suka itu simple, sederhana. Berbeda dengan rasa benci yang dapat diutarakan dengan berjuta sumpah-serapah.

 

Lay tidak romantis. Lay juga tak pernah mengucapkan kata-kata bermakna romantis layaknya Kai-jelmaaan cassanova di kampus kami-yang bisa menarik begitu banyak penggemar cewek. Lay adalah cowok yang mengisi hari-hariku. Itu yang akan kujawab ketika seseorang menyinggung hubungan kami yang bisa dibilang jauh dari keakraban.

 

Lay juga punya list berisi hal-hal yang ia sukai. Ia pernah menunjukkannya padaku ketika itu. Ketika ia mengutarakan perasaannya padaku di musim dingin. Dan saat itu salju turun dengan lebatnya.

 

Hal-hal yang kusukai.

Musik,

Gitar,

Hujan,

Basket,

Es krim,

Bubble tea,

YOU.

***

 

"Lay, apa aku berati bagimu?"

 

"Apa? Tentu saja."

 

"Lalu, apa yang bisa kau artikan dariku?"

 

"Oh, jangan paksa aku untuk mengatakan sesuatu yang bukan keahlianku."

"Aku hanya bertanya, Lay."

 

Lay berpikir sejenak. Lalu menuliskan sesuatu di lenganku, 'aku menyukaimu dan kau menyukaiku. Bagiku, itu sudah cukup'

***

 

Sekarang, akan kuperlihatkan padamu list yang berisikan hal-hal yang kusukai. Tapi berjanjilah untuk tidak memberitahu Lay tentang ini.

 

Hal-hal yang kusukai

Lay,

Lay,

Lay,

Kucing,

Novel,

Musik,

EXO.

***

(oleh: Anglien Siti K, foto: weheartit.com)

 

author :

Astri Soeparyono

Managing Editor untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN