I Love You, My Brother

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Minggu, 21 September 2014

I Love You, My Brother

"Taraaa!!!" Sapaan itu mengagetkanku begitu saja. Seperti matahari terik yang menghujam Bandara Soeta hari itu, rasa panas juga kini ikut menghujam-hujam jantungku. Aku seperti bermimpi. Aku seperti berada dalam dunia khayal yang secara bodoh aku ciptakan di tengah keramaian siang bolong tersebut. Aku terbengong. Bagaimana tidak? Seorang cowok tampan dan berbadan tegap khas Vino Bastian menyapaku dan sedang berjalan menuju padaku. Padahal aku tidak tahu siapa dia, darimana dia dan tujuan apa yang membuatku terhenyak seperti ini. Oh tidaaak! Sekarang ia mendekat. Mendekat dan berhenti tepat di hadapanku. OHHH NOOO! BAGAIMANAAA INI?

 

"Heiii, ada yang bisa saya bantu? Apa saya mengenal Anda?" tanyaku sopan.

 

Pria itu terdiam. Ia mengerutkan keningnya. Ia tampak kebingungan. Lalu beberapa detik kemudian pria itu menggaruk rambutnya. Dengan lekat, ia kembali memandangi diriku yang mungkin kini juga memandanginya dengan tampang bodoh. Tak lama, wajahnya berubah lebih yakin. Ia bahkan berani mengelus lembut rambutku sehingga berhasil membuat jantungku seperti genderang yang ditabuh berkali-kali.

 

"Gue pasti enggak akan salah. Lo itu Tara, kan? Adik gue?"

 

Aku pun terdiam dan berpikir. Lalu tersentak mendengar kata-katanya. "Adik?"

 

Pria itu mengangguk-angguk yakin. Ia tersenyum manis. "Masa baru dua tahun lo udah lupa sama kakak lo yang ganteng ini?" tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuknya.

 

Kini aku mulai memandanginya. Aku penasaran, tapi wajahnya memang familiar. Aku memang mengenal garis-garis senyum manis itu. Memang seperti kakak laki-lakinya yang saat ini sedang ditunggunya. Kakak laki-laki gemuk yang sejauh ingatannya punya pipi menggemaskan dan kacamata kotak unik yang membuatnya tampak seperti cowok-cowok kutu buku pada umumnya. Sekarang? Cowok ganteng bertubuh atletis dan tegap itu berdiri di hadapanku. Tanpa lemak dan kacamata kotak? Tidak mungkin. Aku tidak percaya. Tapi....

 

"Keluarkan kacamatamu dan pakai! Aku tidak mungkin membawa orang asing pulang ke rumah. Bisa-bisa, Mama menuduhku membunuh kakakku sendiri dan menukarnya denganmu yang jauh lebih baik darinya," ucapku tanpa malu kepadanya. Ia pun hanya tersenyum sinis dan kemudian mengeluarkan kacamatanya dari balik jaket cokelat yang dikenakannya. Kacamata kotak itu pun kini menempel di wajahnya, lalu terlihat wajah gembul yang kini lebih tirus. Ganteng. Sekejap aku pun terhipnotis. Dia memang kakakku. Kakak tiriku, Stevan Agusta. Tidak mungkin untuk ke-sekian kalinya.

***

 

 

Aku pasti sial. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin! Aku lagi-lagi tidak bisa menerima kegantengan kakakku itu. Setelah dua tahun tidak bertemu dengannya karena ia bersekolah di Australia, membuatku berpikir ulang apakah ia kesulitan hidup di sana? Ahhh, apakah untuk makan saja terlalu sulit sehingga ia bisa sekurus itu? Tidak...dia bahkan jauh lebih keren dari Vino Bastian sekarang. Hatiku saja sudah bergemuruh sejak tadi. Ini terakhir kalinya aku merasakan hatiku seperti ini. Ya, terakhir kalinya setelah aku berpacaran dengan mantan pacar terakhirku dan kami telah mengakhirinya dua bulan lalu.

 

Tapi...tunggu dulu! Dia kakakku. Bukan cowok lain yang baru saja aku kenal dan kuajak berkenalan, lalu kubawa pulang kemudian mengenalkannya pada kedua orangtuaku. Tidak! Dia adalah kakak tiriku dan ayahnya adalah ayah tiriku. Meski kami tidak ada hubungan darah sama sekali, tapi ini tidak boleh! Aku tidak boleh terus seperti ini dan terus merasa suka terhadapnya. Aku tidak boleh merasa larut dalam bunyi genderang hati yang mustahil. Genderang hati ini boleh untuk siapa saja, tapi tolong...jangan untuk dia. Untuk orang yang tidak mungkin aku berikan pernyataan seperti 'I love you' atau lain sebagainya.

 

"Heiii!"

 

Sapaan ramah itu membuat kaget. Jantungku serasa ingin berhenti ketika melihat wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dariku. Aku terhenyak. Secara jelas, aku bisa melihat garis wajah itu. Aku bisa melihat senyuman itu. Aku bisa memandangi sepasang retinanya yang tengah memperhatikanku. Aku sesak. Aku tidak bisa bernapas. Bagaimana ini. Rasanyaaa.... Tidak! Aku pun kemudian memalingkan wajahku dan berlari menjauh menuju kamarku. Aku menutup kamarku rapat-rapat dan mengunci pintunya kemudian. Kini aku menghela napas, memegang dadaku yang bergemuruh keras. Jatuh cintakah?

***

 

"Kenalin, ini mamaku dan adikku yang paling manis, Tara. Tara, Mama, ini Raisa," ucap Stevan ramah padaku dan Mama. Gadis di sebelahnya juga tersenyum manis memamerkan keramahan dan kesopannya.

 

Mama pun dengan ramah mempersilhkan gadis itu duduk. Aku pun dengan sopan pergi dengan alasan akan memberinya minum. Jujur, aku bukan ingin berbaik hati. Aku juga tidak ingin memberikannya keramahan. Entah apa alasannya, tapi aku tidak suka. Aku tidak terlalu suka meskipun ia terlihat baik dan cantik. Aku tidak suka meskipun ia terlihat serasi dengan kakakku. Aku tidak suka meskipun ia juga memiliki pendidikan dan latar belakang keluarga yang juga baik. Pokoknya aku tidak suka.

 

Egoiskah? Tapi siapa yang salah? Siapa yang membuat Stevan menjadi begitu tampan. Kenapa Stevan harus menguruskan badannya seperti itu? Apa harus ia terlihat tampan begitu di depan gadis itu. Apakah itu gadis pujaannya? Apakah gadis itu yang menjadi alasan kakakku berubah? Aaahhh, rasanya benar-benar.... Semakin banyaknya pertanyaan yang mengalir, rasanya kepalaku makin pusing. Aku makin tidak suka dan aku makin membenci keberadaan gadis itu.

 

Ada apa sebenarnya ini? Cemburukah? Benarkah ini? Seharusnya aku tidak boleh memiliki perasaan seperti ini. Seharusnya aku bahagia, kalau memang kakakku sudah bahagia dan menemukan kebahagiaannya bersama gadis itu. Tidakkah lebih baik aku tersenyum manis dan mengucapkan selamat? Tidakkah lebih baik aku mengucapkan rasa sukaku pada gadis itu dengan tulus dan bukan mengumpatnya dengan rasa tidak sukaku seperti ini? ASTAGAAA....

***

 

Sudah seminggu aku sering melihat wajah gadis itu bolak-balik ke rumahku. Sudah seminggu juga aku berdiam diri tak menyapanya dengan lebih bermartabat. Dia mungkin sudah merasakan perasaanku ini. Tapi entah kenapa aku juga tidak peduli. Terlebih lagi ketika waktu bersama kakakku tersita gara-gara gadis itu, aku semakin kesal dan terang-terangan memandanginya dengan wajah yang mungkin dapat dikatakan tidak enak dilihat. Berlebihan? Mungkin. Tapi beginilah sindromnya orang jatuh cinta. Tingkah yang kekanakan, perasaan yang serba salah dan kemudian kecemburuan yang tidak berdasar pada alasan yang logis.

 

Bahkan kini aku sudah mengakui perasaan bergemuruh ini. Aku mengenalnya sebagai perasaan jatuh cinta. Meskipun dengan orang yang salah tapi beberapa hari ini aku memutuskan untuk menikmatinya saja. Walau rasanya tersiksa, tapi jatuh cinta diam-diam kepada saudara tirimu sendiri itu lebih menyenangkan. Ketika pagi hari, aku bisa memandangi wajahnya yang baru bangun tidur tanpa harus menyerang jejaring sosial dan menyandang pekerjaan sebagai stalker. Ketika pulang sekolah, ada wajah perhatian yang menanyakan keadaan sekolahmu. Lalu ketika malam, kita bahkan bisa dinner tanpa bersusah payah mengajaknya.

 

Namun, lagi-lagi keadaan indah itu terusik dengan adanya gadis bernama Raisa itu. Jelas dia bukan penyanyi. Aku juga tidak tahu apa dia bisa menyanyi merdu atau tidak. Tapi, Raisa ini tidak kalah cantik bila dibandingkan Raisa si penyanyi. Aku bahkan sempat ciut bila membandingkan diriku dengan dirinya yang anggun dan dewasa. Aku hampir kehilangan napas ketika menyamakan status SMA-ku dengan status 'anak kuliah' yang disandangnya.

 

"Kakak sudah berapa lama kenal kakakku?" tanyaku di suatu siang ketika Raisa sedang berkunjung di rumah. Wajah Raisa tampak sumringah ketika mendengar rasa antusias yang mulai kugambarkan atas hubungan percintaan dewasanya.

 

"Baru sekitar enam bulan. Kita baru pacaran tiga bulan ini. Kenapa?"

 

Aku tersenyum manis. "Jadi selama ini kalian long distance, ya?" tanyaku datar.

 

Raisa mengangguk dan kemudian balas tersenyum.

 

"Kakak enggak curiga? Aku pernah mendengar kakak telpon seseorang. Aku tidak tahu siapa, tapi sepertinya sangat dekat. Coba dicek dulu. Kakak sekarang memang agak berubah. Semenjak wajahnya berubah lebih baik, dia menjadi gampang dekat siapapun," saranku sederhana. Raisa hanya tersenyum pahit. Kemudian terdiam dan membuang wajahnya ke arah lain. Aku merasakan bahwa api yang aku nyalakan mulai memanasi hati dan pikiran gadis cantik itu. Maaf, yaaa, Kak Raisa....

***

 

Perasaanku tidak nyaman. Sepasang retina menyebalkan terus dan terus saja memandangiku. Aku seperti terjebak. Hmmm...ada apa ini? Apa kakakku tahu apa yang aku lakukan? Sudah bertengkarkah mereka? Dengan berani aku memandangi wajahnya. Retina kami pun mau tak mau bertemu. Kini rasa bergemuruh itu datang lagi. Ia hadir menyemarakkan rasa hati yang tadinya kosong melompong. Ahhh...rasanya ini bukan untuk saudaraku sendiri.

 

"Kenapa?" tanyaku menantang.

 

"Kamu yang kenapa!"

 

"Maksudnya?"

 

"Aku putus. Ini semua pasti gara-gara kamu."

 

Aku terhenyak. Semudah itukah? Namun, aku tidak mau mengakui bahwa aku telah berubah jadi udang di balik hubungan mereka. "Kok aku?" tanyaku pura-pura tidak tahu.

 

Stevan hanya menghela napas. Ia tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya terdiam memandanginya. Wajahnya tampak frustasi. Ia pun berdiri dan kembali menatapku. Ia mengerutkan dahi. Ekspresinya seperti ingin berbicara, namun mulutnya seperti terkunci untuk mengatakan setiap kata-kata. Ia pun memalingkan wajahnya. Hanya berselang beberapa detik ia berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan diriku yang masih terduduk di teras belakang. Aku hanya memandangi punggungnya yang siap ditelan oleh pintu. Namun, kutunggu hingga lima detik lewat, Stevan tak kunjung masuk. Ia bahkan menoleh dan memandangiku yang tengah memperhatikan tingkahnya. Kemudian ia pun kembali berjalan ke arahku dan duduk di posisinya semula.

 

"Tara...."

 

"Ya."

 

Stevan memandangiku lekat-lekat. Kini aku sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Kini yang aku rasakan hanya menunggu. Menunggu hingga Stevan mengatakan sesuatu. Setidaknya sebuah jawaban akan perasaan aneh yang kini aku rasakan. "Sudah. Cukup! Aku tahu kamu lebih dewasa dari diriku. Setidaknya kamu pasti lebih pandai menatanya, tapi kenapa seperti ini?" tanyanya dengan nada frustasi.

 

Aku memandanginya. Bingung. "Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.

 

"Tara.... Ini tak akan pernah berhasil. Meskipun aku pernah merasakannya sekali pun, ini enggak akan pernah berhasil. Sudah...cukup Tara! Jangan biarkan larut dan sekarang berhentilah untuk merasakannya! Kalau kamu tidak berhenti juga, aku akan terlena dan berbuat macam-macam pada adikku sendiri. Jadi kembalilah.... Aku ingin melihat Taraku kembali! Ahhh...jangan buat aku menyesal karena berubah seperti ini. Cukup!" ungkap Stevan tertahan.

 

Kini aku hanya terdiam memandangi sepasang retinanya yang berkaca-kaca. Seperti itukah kenyataannya. Seperti itukah perasaannya padaku. Apakah itu alasannya kenapa dia tidak pulang selama dua tahun? Apakah itu alasannya untuk mengubah dirinya sendiri? Astaga! Tara, sebodoh itukah dirimu selama ini. Aku hanya memandangi kakakku. Kakak tiriku. Aku menyerap semuanya, semua ucapannya. Ya...ini tak akan pernah berhasil meski berbalas. Meski aku mengatakan aku mencintaimu. Meski...I love you, my brother.... Kita tetap akan jadi saudara.

 


(Oleh: Umi Chairunnisa, foto ilustrasi: indipepper.com)

 

 

author :

Astri Soeparyono

Managing Editor untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN