Ekuatorian

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Sabtu, 23 Maret 2013

Ekuatorian

Jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi tapi matahari seperti sudah menapaki bumi. Panas sudah menyengat. Sebagian tubuh sudah berkeringat. Ya, beginilah kalau kita sedang berada di pusat urat bumi. Laju rotasi terasa begitu cepat. Setiap menit dan detik terasa begitu singkat.

 

            Upacara bendera seperti dilaksanakan di atas kubangan magma. Rian terus berusaha berdiri sekuat tenaga. Kepalanya pening dan tubuhnya mulai bereaksi tak biasa. Iringan lagu Indonesia Raya semakin membuat kepalanya terasa berat. Tubuhnya oleng. Kesadarannya hilang seketika.

 

            Mata Rian terbuka. Ia berbaring di atas tempat tidur. Dilihatnya langit-langit ruang UKS yang putih temaram. Seorang gadis tampak berdiri di sampingnya sambil meracik obat. Dari seragam yang dipakainya, Rian tahu kalau dia seorang petugas PMR. Rian pun bergegas bangkit.

 

            "Oh, kamu udah bangun ya!" ujarnya ramah. "Kamu cuma pusing kepanasan aja kok, nanti juga sembuh. Nanti aku kasih obatnya ya!"

 

            "Ma...makasih ya," ucap Rian terbata. Gadis berambut panjang itulah yang telah menolongnya. Sebagai seorang cowok, Rian sungguh sangat malu karena terlihat lemah di depannya. Sungguh menyebalkan.

 

            "Kamu murid baru ya?"

            Rian mengangguk. Baru 3 hari ia pindah ke Pontianak tapi kejadian memalukan sudah dialaminya. Rian sekeluarga pindah ke Pontianak untuk mengikuti sang ayah yang dinasnya dimutasi.

 

            "Kenapa gue mesti pingsan segala sih! Padahal ini kan hari pertama gue masuk sekolah!" gerutu Rian dalam hati.

 

            "Beginilah jadinya kalo kita tinggal tepat di pusat garis khatulistiwa, panasnya luar biasa! Apalagi kalo di bulan Maret kayak sekarang, matahari tuh kayak nangkring di kepala aja. Bikin pusing!" ujar cewek itu akrab. "Oh ya, kenalin aku Naisha. Aku anak kelas 12 IPA 1."

 

            "A...aku Rian. Aku anak kelas 12 IPA 5. Aku baru pindah dari Jakarta."

            "Oh.. dari Jakarta ya! Gimana Jakarta? Panasan mana sama Pontianak?"

            "Kayaknya sama aja deh. Sama-sama bikin gerah!"

           Naisha tersenyum sambil menyiapkan beberapa butir obat dengan segelas air putih. "Ini obatnya. Kamu minum ya!"

 

            "Makasih banyak ya," Rian tersipu malu.

            "Iya, sama-sama. Aku cuma sekedar ngejalanin tugasku sebagai petugas PMR, kok."

 

            Begitulah perjumpaan Rian dengan Naisha. Di kota titik nol ekuator dunia, Rian bertemu dengan cewek kenalan pertamanya. Naisha telah mengubah kesan pertamanya pada kota khatulistiwa. Panasnya lintang bumi tidak ia hiraukan lagi. Ada kesejukan baru yang membuatnya betah tinggal di kota ini.

 

            Rian dan Naisha seperti telah digariskan untuk bertemu oleh titik koordinat semesta. Mungkin ini berlebihan tapi ini bisa dibuktikan. Mereka mulai akrab. Jalinan pertemanan tidak bisa terelakkan. Meskipun mereka duduk di kelas yang berbeda, tapi mereka selalu terkoneksi. Entah itu dalam dunia maya ataupun dalam dunia nyata. Rian selalu menyempatkan diri untuk sekedar menemuinya di koridor sekolah. Ia mulai mau membuka diri di depan Naisha.

 

            Naisha pun mulai tahu beberapa kebiasaan aneh Rian. Mulai dari kebiasaannya

yang suka main game Sudoku pas pelajaran Fisika sampai kebiasaannya yang suka pingsan saat upacara bendera dan saat pelajaran olahraga. Rian memang sudah terbiasa dengan kebiasaan anehnya itu. Sejak SMP, ia selalu minta izin untuk absen dalam setiap upacara bendera dan setiap pelajaran yang mengharuskannya belajar di bawah sinar matahari langsung. Dan untuk upacara bendera kemarin, tentu ia masih belum berani meminta izin dispensasi karena ia masih warga baru di sekolah ini.

 

            Naisha adalah sosok teman cewek yang berbeda. Naisha adalah penggemar pelajaran Geografi dan Antariksa. Ia sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sains dan gejala alam. Cita-cita terbesarnya adalah menjadi ilmuan Geofisika dan bisa keliling dunia. Baginya, setiap tempat di bumi itu istimewa. Jangan heran bila National Geographic jadi saluran televisi favoritnya.

 

            "Kamu udah pernah pergi ke Tugu Khatulistiwa, belum?" tanya Naisha ketika mereka sedang bercakap-cakap di koridor sekolah.

 

            "Tugu Khatulistiwa? Di mana, tuh?" Rian penasaran.

            "Ah, kamu gimana, sih? Ke Pontianak kok belum ke sana! Itu udah jadi trademark kota, tau! Musti dicoba. Apalagi kalo udah tanggal 21 sampe 23 Maret nanti ada kulminasi matahari!"

 

            "Kulminasi matahari? Apaan tuh?"

            "Ah, kamu ini gimana sih? Makanya, kalo belajar Fisika jangan maen game mulu! Kulminasi itu adalah titik saat matahari tepat di atas garis khatulistiwa. Bayangan kita jadi menghilang selama beberapa detik. Pokoknya kamu harus nyoba deh! Seru, tau!"

 

            Kulminasi atau apa pun itu, Rian tak peduli. Gadis manis di depan matanya lebih dulu mengaburkan bayangnya. Makin lama ia makin dekat dengan Naisha. Entahlah, ada suatu perasaan lain yang membuatnya nyaman saat berada di dekatnya. Hingga ia pun tersadar kalau ternyata ia menyukainya. Ya, Rian menyukai Naisha. Dan ia berharap akan sebuah hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan atau persahabatan.

 

            Memang Rian baru mengenalnya beberapa minggu, tapi itu sudah cukup untuk meyakinkan hatinya. Tidak seperti Eratosthenes yang perlu bertahun-tahun sampai dia menemukan koordinat akurat garis lintang bumi, Rian hanya perlu 20 hari untuk mengkoordinasi perasaannya. Ia harus menyatakan cintanya. Tak peduli diterima atau tidak, yang penting ia sudah berusaha.

 

            Memang keberaniannya tidak terlalu besar. Sungguh sulit bila harus mulut yang dipaksa berbicara. Terpaksa ia harus memilih opsi yang ditawarkan teknologi. Lewat SMS, ia nyatakan perasaannya.

 

            "Nai, aku sebenernya suka sama kamu. Kamu mau, enggak, jadi pacar aku!" tulis Rian dalam pesannya di malam itu. Rian tahu pesan itu terkirim dengan baik. Tapi Naisha belum kunjung membalas. Ditelpon pun tidak dijawab. Bukannya Naisha menolak, tapi ia tak tahu apa yang harus ia jawab. Ia bingung.

 

            Sebuah pesan kembali diterima Naisha, "Nai, aku tahu kamu baca SMS ini. Aku juga tahu kamu perlu waktu. Besok hari libur dan tepat tanggal 23 Maret. Aku tunggu jawabanmu besok pagi tepat sebelum kulminasi matahari. Aku akan menunggumu di dekat Tugu Khatulistiwa, Nai!"

 

* * *

 

            Sejak dari pukul 9 pagi tadi, Taman Khatulistiwa, tempat tugu titik nol khatulistiwa berada sudah dipadati oleh masyarakat dan para wisatawan yang ingin menyaksikan kulminasi matahari. Sebuah alat deteksi kulminasi berupa besi bulat sepanjang dua meter yang dihubungkan dalam dua rangkap lensa cembung telah dipersiapkan di depan tugu. Lensa cembung itu digunakan untuk menangkap sinar matahari ketika tepat di titik nol derajat garis ekuator.

 

            Orang-orang berkerumun, tapi Rian memisahkan diri. Tujuannya bukan menyaksikan kulminasi, jawaban dari Naisha-lah yang ia nanti. Ia sudah mencoba mengirim SMS pada Naisha berkali-kali, tapi tidak dibalas. Di bawah teriknya sinar mentari, Rian mencoba tetap berdiri untuk memperhatikan sekeliling. Ia tahu Naisha pasti datang. Ia akan datang, begitu pikirnya.

 

            Satu jam berlalu. Dua jam sebentar lagi berlalu. Rian masih terus berdiri seperti Tugu Khatulistiwa yang juga masih kokoh berdiri. Matahari bersinar dengan penuh arogansi. Kepalanya mulai pusing. Oh tidak, penyakit kronisnya mulai kambuh lagi. Tidak, Rian tidak boleh ambruk. Demi Naisha ia tak boleh putus asa. Kali ini ia yakin akan sistem tubuhnya.

 

            "Bertahanlah Rian, Naisha akan datang sebentar lagi. Naisha pasti datang!" pikirnya bergumam sendiri.

 

            Jam sudah menunjukkan pukul 11 lebih 40 menit. Semua orang mengerumuni

alat deteksi kulminasi matahari, tapi Rian masih enggan untuk berpindah posisi. Matahari sedang menuju titik kulminasi. Bayangannya mulai perlahan menghilang. Bumi terasa berotasi begitu cepat. Entahlah, mungkin itu hanya perasaan Rian saja. Sekeliling terasa berputar. Sengatan panas mentari membuat tubuhnya bergetar.

 

            "Tidak, aku pasti bertahan!" Rian terus meyakinkan diri.

            Ia terus berjuang melawan agresi panas mentari dan gravitasi bumi. Detik-detik kulminasi berlangsung sakral. Matahari semakin sangar. Langit tak menyisakan ruang untuk awan apalagi hujan. Matahari dan bumi seakan saling memelototi. Dan tepat pukul 11 lebih 51 menit, bayangan lenyap seketika. Kulminasi terjadi. Semua orang bersorak.

 

            Matahari bertatap muka secara intim dengan bumi. Matahari menatap Rian tajam sekali. Panas, panas, panas! Sistem tubuh Rian tak sanggup lagi. Bayangan wajah Naisha muncul sekilas seperti fatamorgana. Rian seakan melayang. Masa tubuhnya tereduksi. Ia tak sanggup lagi melawan gravitasi bumi.

 

* * *

 

            Naisha berjalan tergesa-gesa. Lorong rumah sakit bisa dilewatinya dalam sekejap mata. Langkahnya tertuju pada sebuah kamar inap di ujung sana. Naisha sudah berada di depan pintu. Seraya mengucapkan salam, ia membuka pintu.

 

            Terlihat Rian tengah berbaring ditemani sang ibu. Matanya tampak masih tertutup. Sepertinya ia belum sadarkan diri.

 

            "Oh, kamu sudah datang. Kamu Naisha, kan?" tanya ibu Rian ramah.

            "I...iya," jawab Naisha cemas. Pandangannya masih tertuju pada Rian yang masih terlelap.

 

            "Tidak apa, kamu enggak usah khawatir. Sebentar lagi Rian siuman, kok," ucap sang ibu tenang. "Maaf ya tadi ibu nelpon kamu. Tadi sepertinya Rian mau nelpon kamu tapi ia keburu pingsan duluan. Kalian udah janjian, ya?"

 

            Naisha melongo. Ia lalu tersipu malu.

            "Maafin Rian, ya! Rian itu memang anak yang ceroboh. Ia tak pernah peduli dengan kondisi badannya. Padahal, dia kan sedang sakit."

 

            "Sakit?" Naisha terkaget.

            "Iya, sakit. Seharusnya ibu sudah bilang pada pihak sekolah, tapi Rian menolak dan meminta ibu memberinya waktu."

 

            "Emang Rian sakit apa, Bu?"

            "Rian terkena kanker."

            "Kanker?" Naisha terkejut luar biasa.

            "Ya, Rian terkena kanker. Ia terkena kanker otak. Makanya dia suka pusing kalo kelamaan kena sinar matahari. Tapi tak apa, kankernya masih belum parah dan masih bisa diobati."

 

            Naisha tak percaya dengan apa yang didengarnya. Rian sakit? Seperti kulminasi yang tidak mungkin terjadi di malam hari, apa yang baru dikatakan ibu Rian pasti tidak benar-benar terjadi. Rian memang agak beda. Daya tahan tubuhnya memang lebih lemah dari orang kebanyakan, tapi itu tak bisa dijadikan patokan. Kanker ganas tak mungkin diidapnya. Mungkin itu cuma karena faktor cuaca.

 

            Ia berharap ibu Rian segera meralat ucapannya. Tapi itu cuma sekedar angan saja. Naisha tak tahu harus bersikap bagaimana. Ini terlalu sulit untuk diterka.

 

            Mata Rian perlahan terbuka. Setelah hampir 40 menit ia pingsan, akhirnya ia terbangun juga. Naisha dan ibunya tersenyum lega. Rian segera bangkit duduk dan memandang Naisha.

 

            "Jadi jawabanmu gimana, Nai? Aku diterima, enggak?" tanya Rian yang masih dalam kondisi lemas.

 

           Naisha terdiam. Garis ekuator mungkin bisa membelah bumi menjadi dua, tapi hatinya tidak bisa. Garis ekuator dan Rian adalah suatu hal yang berbeda, tapi iba dan rasa cinta bisa berarti sama. Naisha mematung bagai tugu katulistiwa. Tetes air mata di pipi tak mampu membuka esensi jawaban di hatinya.

 

* * *

 

(Oleh Rosmen Rosmansyah, foto: pinterest.com)

 

author :

Astri Soeparyono

Managing Editor untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN