Demi Rindu dan Sakura

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Jumat, 7 November 2014

Demi Rindu dan Sakura

Bunga sakura. Cinta dan benci. Pemuda itu mencintai bunga Sakura, karena cantiknya mengingatkannya pada rekah senyum gadis yang dia cintai. Sekaligus dia membencinya. Benci karena Sakura mengingatkannya, bahwa makin besar ia mencintai, maka sebesar itu pula rasa sakit menggerus hatinya.

 

Ji Won menatap kelopak-kelopak bunga sakura di atasnya. Terasa jauh dari rengkuhannya. Seakan menjadi jawaban dari semesta atas pertanyaan yang membuatnya hampir tak bisa bernapas selama ini: Sakura, apa kau juga mencintaiku?

 

***

 

Udara musim semi belum bergerak menuju hangat. Sisa uap dingin winter masih menggigit-gigit kulit. Seharusnya aku memakai baju lebih tebal. Aku mengenakan terusan katun putih, dengan tights hitam dan pantofel senada. Aku mengenakan cardigan rajut abu-abu dan syal hitam. Kukira semua ini cukup menahan dingin, tapi ternyata salah. Saking terbiasa dengan panas Jakarta, hawa 15 derajat ini terasa seperti di bawah sepuluh derajat.

 

Pukul sepuluh pagi dan Hongik University Area sudah begitu ramai. Wajar. Sekarang libur akhir pekan dan bunga-bunga sakura bermekaran. Aku selalu merasa orang-orang Korea lembut dan romantis. Seperti di drama-drama di TV. Pemuda-pemudanya menatap sayu, dengan sorot mata menggetarkan hati gadis yang siap jatuh cinta.

 

Aku berhenti di salah satu sudut gedung Sangsangmadang - gedung sebelas lantai di mana ada bioskop, aula pertunjukan, galeri seni, juga studio - dan mengamati. Muda-mudi menggelayut manja. Saling bergandengan tangan. Mata-mata berbinar penuh cinta. Bahkan ada sepasang kakek nenek yang ikut menautkan tangan, seakan tak mau kalah. Kakek itu membetulkan posisi syal nenek di sampingnya, dan nenek itu hanya tersipu malu. Indah sekali pemandangan itu. Aku pun paham, bahwa cinta sejati bukanlah cinta sehidup semati, tapi cinta yang tumbuh dan ikut menua bersama waktu.

 

Aku teringat Ji Won. Aku ingat bagaimana Ji Won mengambil apa yang erat kujaga. Hatiku. Dan hari ini aku jauh-jauh datang ke Seoul dari Jakarta, sebelum habis waktuku untuk menjawab apa yang dulu Ji Won tanyakan padaku. Pertanyaan tentang cinta.

 

Aku terus berjalan melewati pasar kaget yang ada setiap Sabtu. Kampus di dekat sini terkenal dengan jurusan seninya. Tiap akhir pekan mahasiswanya menggelar hasil karya mereka. Aksesori buatan tangan, gaun-gaun rajut warna-warni, pajangan kaligrafi, semuanya dijual dengan harga sangat terjangkau.

 

Mataku tertuju pada pajangan tembikar yang berbentuk pemuda duduk di atas batu sambil memainkan gitar. Tanganku menyentuhnya, tak bisa kukendalikan. Detilnya begitu sempurna. Penjualnya seorang gadis pendek dengan mata sipit dan kacamata berbingkai tipis. Dia sibuk melayani seorang ibu-ibu yang menawar asbak bergaya retro di sudut meja lainnya. Patung tembikar ini mengingatkanku pada Ji Won.

 

 

Aku mengenal Ji Won dari Kim, teman satu sekolahku di sekolah internasional di Jakarta. Ternyata mereka sepupu jauh. Saat aku bertemu dengan Ji Won, ternyata ini sudah ketiga kalinya dia ke Jakarta. Pipinya kala itu memerah seperti tomat ceri yang pecah di wajah. Mungkin dia tak terbiasa dengan udara panas Jakarta. Awalnya aku kesal pada Kim, kenapa harus mengajak sepupunya. Mengunjungi teman yang sedang sekarat di rumah sakit, bukanlah itinerary liburan yang tepat, kan?

 

Namun, Kim sepertinya sudah bisa menebak bahwa Ji Won bisa menyalakan api hidup di dadaku yang redup. Dengan senyumnya. Leluconnya. Pipinya yang bulat dan merah. Petikan gitarnya yang mengalun merdu.

 

"I'm going home in two days," aku teringat kata-katanya. "My vacation is over."

 

"I know. I overheard your convo with Kim. Will you come back to Jakarta?"

 

"Tergantung. Kim bilang kamu enggak mau menerima donor. Kenapa, Sakura?"

 

"Aku sudah sakit sejak bayi. Belum lagi dokter bilang tingkat keberhasilannya cuma 40%. Kalaupun tubuhku menerima jantung baru itu, pemulihannya akan lama sekali. Aku enggak tahu apa aku sanggup."

 

"Harus bisa!" Ji Won setengah membentak. Aku terkesiap.

 

"Kenapa kamu yang ngotot?"

 

"Karena aku akan balik lagi ke Jakarta dan aku mau kamu yang menjemputku di bandara. Menemaniku ke mana-mana. Cuma kamu, Sakura, alasanku kembali ke Indonesia. Meninggalkan semua yang ada di Seoul, karena aku...."

 

"Stop, Ji Won!" aku ganti membentaknya. "Hidupmu sempurna di Seoul. Mahasiswa seni yang brilian. Punya pacar cantik bernama Eun Jung. Kamu mau menyerah demi orang penyakitan seperti aku? Gila!"

 

"Makanya lakukan operasi itu. Kamu akan sama sehatnya dengan gadis mana pun di dunia ini. Lakukan ya, supaya enggak ada alasan lagi kamu menjauh dariku."

 

Aku ingat semangatnya yang membara saat memaksaku menerima donor jantung. Bagaimana bisa kuabaikan sorot mata teduhnya yang penuh cinta itu? Aku jadi sesak napas. Dari dulu, aku menghindari untuk dicintai. Aku cuma gadis dengan penyakit jantung bawaan dan bisa mati kapan saja. Kalau kau dalam kondisi seperti itu, maka jatuh cinta adalah kemewahan yang seumur hidup tak boleh kau cicipi.

 

Hanya saja, Ji Won telanjur mengambil hatiku. Dalam diam, aku jatuh cinta. Dia tak boleh tahu kenyataan itu. Jika tahu, dia akan bersikeras menemaniku di Jakarta dan meninggalkan semua pencapaiannya di Seoul. Hanya demi gadis penyakitan seperti aku.

 

"Janji ya," Ji Won menggenggam tanganku. "Kamu akan melakukan operasi itu. Begitu sembuh, aku akan membawamu ke Seoul, ke tempat kesukaanku, Hongdae. Nanti kita akan makan chicken curry di bangku panjang sambil melihat sakura bermekaran. Don't you wanna see the flower which your name is taken from?"

 

"I don't know, Ji Won."

 

"Just promise me. Please."

 

Tatap mata dan lembut suaranya meruntuhkan dinding yang kokoh mengelilingi hatiku. Maka, setelah kepulangannya, aku mengatur jadwal operasi transplantasi dengan dokter. Tepat sebelum mataku terpejam oleh anestesi, yang terlintas di pandanganku, aku dan Ji Won duduk di bangku panjang yang dinaungi rimbun pohon sakura yang bermekaran. Kami hanya duduk, bergenggaman tangan, dan sama-sama menyadari dalam diam, kalau kami saling jatuh cinta.

 

Dan aku pun di sini. Di Hongdae, Hongik University Area. Diam-diam aku ke Seoul tanpa memberitahunya. Aku ingin mengejutkannya. Aku, gadis bernama Sakura, datang membawakannya cinta, tepat di saat kelopak-kelopak sakura bermekaran.

 

Langkahku terhenti di sebuah jalan setapak. Mataku tertuju pada sesosok tegap yang berdiri di tengah sana. Pemuda itu berdiri diam sembari mendongak ke kelopak-kelopak sakura di atasnya. Ji Won. Dengan baju hangat cokelat dan celana jeans, dia masih sama tampannya seperti terakhir bertemu. Pipinya sedikit lebih tirus. Sorot matanya tetap sama. Sorot mata sesendu itu, apakah karena merindukanku?

 

Seakan mengerti aku tengah terpaku menatapnya, Ji Won terbeliak menatapku. Seakan tak percaya dia menemukanku di sini. Aku menepati janjiku. Kulakukan transplantasi itu dan langsung melesat kemari untuk menagih janjinya.

 

Aku berlari mendekatinya. Begitu erat aku memeluknya sampai air mataku ikut pecah. Tak peduli air mataku akan membasahi bajunya, aku terus mendekap erat. Seakan takut kehabisan waktu di dunia, aku mendongak menatap matanya yang penuh oleh rindu lalu menciumnya. Satu ciuman lembut yang sanggup menggambarkan betapa kerinduan ini terlalu lama kujaga.

 

"I,..." aku menatap matanya sekali lagi. "I've loved you since the first day I met you." Akhirnya aku sanggup mengatakannya. Kuruntuhkan benteng yang erat melindungi hatiku. "I love you." Kukatakan semuanya seakan aku takut waktuku di dunia tak cukup lagi untuk mengatakannya.

 

***

 

 

Ji Won berdiri di tengah ramainya jalan setapak yang tak terlalu luas. Pengunjung Hongik University Area terus berdatangan, sekadar untuk menikmati mekarnya bunga sakura di awal musim semi. Bangku-bangku taman pengapit jalan itu, bersanding dengan batang-batang pohon sakura yang rimbun lebat oleh kelopak-kelopak merah jambu, sebenarnya pemandangan yang teramat indah. Indah di kala tak ada orang sebanyak ini.

 

Sekuntum bunga sakura melayang jatuh. Jatuhnya melayang-layang lambat, seakan tengah melawan gravitasi. Seakan enggan untuk luruh. Ji Won menangkapnya. Kelopaknya lembut dan rapuh. Mengingatkannya pada sorot mata yang sungguh mati dia rindukan.

 

Ji Won bahkan bisa mendengar suara yang dia rindukan itu menggema di telinga.

 

Ji Won, everytime you see cherry blossom, please remember me.

 

Dia memejamkan mata, merasakan perih di dadanya. Pelan-pelan dia mengatupkan tangan dan Sakura di telapak tangannya remuk menggumpal. Sekejap dia lupakan riuh sekelilingnya. Tak ada tawa pemuda-pemudi yang tangannya menggamit mesra. Tak ada suara gesek baju hangat tebal. Tak ada hela napas yang mengepul tipis atau desau angin.

 

Hanya ada Ji Won di tengah semesta kelam dan guyuran kelopak sakura. Hening. Sendiri. Perlahan dia membuka mata. Napasnya tercekat. Sakura berdiri di hadapannya, tersenyum, di tengah hujan kelopak sakura. Gadis itu mendekat ke arahnya. Senyum itu jauh lebih indah dari seribu kembang sakura yang rimbun menaungi keduanya.

 

"Ji Won," ujar Sakura.

 

Gadis itu langsung memeluknya dan menyurukkan wajah di dada Ji Won. Bisa dia rasakan diam-diam gadis itu menangis. Kausnya basah. Hatinya ikut basah. Ji Won tercekat.  Detak jantungnya berderap tak keruan.

 

Sakura mendongakkan kepala. Pipinya memerah karena sembab air mata. Tapi pesonanya tak ikut luntur. Gadis itu mengecupnya bibirnya. Lembut tapi begitu kuat menjungkirbalikkan hatinya.

 

"Aku," Sakura melepaskan kecupannya dan menatapnya dalam-dalam. Lalu dia membisikkan sesuatu yang sejak dulu Ji Won tunggu. Pertanyaan yang mengambil alih kewarasannya selama ini. "...mencintaimu sejak pertama kita bertemu."

 

Aliran darah Ji Won berdesir kencang sehingga membuat kepalanya berdenyut-denyut nyeri. Sakura tersenyum lalu memeluknya, lebih erat dari sebelumnya.

 

"I love you."

 

"Ji Won!"

 

Pemuda itu tersentak. Semesta kelam tadi sekejap pecah semburat dan menerjunkannya kembali ke jalan setapak di salah satu sudut Hongik University Area. Orang-orang riuh. Tawa-tawa hangat khas musim semi. Wajah-wajah merona oleh cinta berbaur dengan merah jambunya bunga Sakura.

 

 

"Ji Won! Bengong, ya?" panggil suara itu sambil menarik ujung baju hangat Ji Won dengan kencang. "Aku mau makan. Lapar. Chicken Curry ya?"

 

"Eun Jung?" Ji Won mengerjapkan matanya beberapa kali. "Aku..." Ji Won masih berusaha mengembalikan kewarasannya. Mana Sakura? Bukankah tadi dia di sini, di dalam pelukannya, mengecupnya? Bahkan hangat bibirnya masih jelas tertinggal.

 

"Ji Won! Kamu tidak mendengarkan, ya?" Eun Jung mengerutkan bibir. Wajahnya yang imut terlihat makin menggemaskan. Tapi Ji Won sedang tidak ingin tertawa.

 

Biip biip... ponsel di balik baju hangatnya bergetar. Alasan sempurna untuk melepaskan rengkuhan Eun Jung yang mendadak membuatnya sesak napas. Kim. Tidak biasanya Kim mengiriminya pesan singkat.

 

"Operasi Sakura gagal. Dia meninggal sejam lalu."

 

Dingin merayapi tengkuk Ji Won, lalu merembet di sepenjuru tubuhnya. Jejak bibir itu masih hangat. Pelukan itu masih erat mendekap. Satu lagi kuntum sakura melayang jatuh di helai kelam rambut Eun Jung yang panjang. Matanya berbinar penuh ingin tahu. Ji Won mengulurkan tangan dan mengambilnya, lalu meremasnya kuat-kuat.

 

"Ayo pergi," ujar Ji Won menahan pahit di dadanya. Eun Jung merangkul pemuda itu. Seharusnya hangat. Eun Jung kekasihnya, bukan Sakura. Ah, sudahlah. Seperti bunga sakura yang mekar di musim semi hanya untuk berguguran di musim gugur, serupa itulah perasaannya pada Sakura. Merekah saat dia berkunjung ke Indonesia bulan lalu, dan kini tengah berguguran, entah sampai kapan.

 

Mungkin selamanya.

 

***

 

Desau angin membuat ranting-ranting berhias kelopak sakura mengangguk-angguk. Aku tersenyum lega. Ji Won menatapku dengan sepasang matanya yang tak pernah berhenti kurindukan. Aku menciumnya. Benar kan, bibirnya lembut seperti lelehan madu. Akhirnya, aku berani. Demi Tuhan dan demi waktu yang akhirnya berhenti berdetik, aku bisa mengatakannya. Tidak ada penyesalan. Tidak ada keraguan.

 

Aku jatuh cinta. Mencintai Ji Won sampai detik terakhir hidupku.

 

Kini sinar putih di ujung jalan sana tak terlihat lagi menakutkan. Hangat. Wangi. Tubuhku makin lama makin ringan. Aku bisa merasakan diriku melayang-layang. Sekali lagi kulihat Ji Won. Walau gadis manis bernama Eun Jung itu menggelayut manja dan mencelotehkan lelucon, sorot matanya tetap sayu oleh kesedihan yang siap meruntuhkan.

 

Ah, maafkan aku yang telah mencipta lubang hitam di hatimu, Ji Won. Lubang hitam yang mengisap seluruh bahagia yang kau punya. Sekali lagi, maafkan aku.

 

***

 

(oleh: anggun prameswari, foto: weheartit.com, tumblr.com)

 

author :

Astri Soeparyono

Digital Content Producer untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN