Aku, Penggemar Rahasia, dan Payung Biru Langit

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Rabu, 15 Oktober 2014

Aku, Penggemar Rahasia, dan Payung Biru Langit

Masih terdengar hujan dari luar kelas. Jam dinding menunjukkan angka tiga. Seharusnya sudah sejam yang lalu aku meninggalkan sekolah. Tapi, karena hujan deras terpaksa aku tinggal di sekolah lebih lama lagi. Aku tidak sendiri memang. Masih banyak yang menunggu hujan reda. Beberapa teman tetap berada di kelas, bercanda dengan yang lain, bermain kartu poker atau UNO. Beberapa teman lagi terlihat bermain gitar dan bernyanyi bersama. Ah, sungguh menyenangkan bisa berkumpul bersama teman-teman.

 

Tapi, aku tak bisa. Aku lebih nyaman jika aku tidak bersama mereka. Aku takut mereka tidak mau berteman denganku. Aku berdiri di dekat jendela, merasakan dinginnya kaca jendela yang terguyur hujan dari luar. Dari lantai atas, di belakang jendela itu, aku bisa melihat semuanya yang ada dari atas. Aku bisa melihat halaman sekolah yang luas. Aku bisa melihat lapangan basket yang tergenang air dan terguyur hujan deras.

 

Lima belas menit kemudian, hujan tampak mulai mereda. Tapi, tetap saja jika aku nekat menerobos hujan, seluruh tubuhku akan basah semua, dan buku-buku kesayanganku akan basah. Aku tak mau. Aku mengutuki diriku sendiri, kenapa aku bisa lupa membawa payung. Sebagian besar teman yang ada di kelas sudah beranjak pergi. Aku pun memutuskan untuk menunggu di bawah.

 

Ketika aku ingin keluar kelas, aku melihat sesuatu di atas bangkuku. Dan ternyata sebuah payung berwarna biru langit dengan kertas tersemat di atasnya.

"Untuk Meli. Pakailah payung ini, agar kamu tidak basah karena hujan. Meskipun hujan datangnya keroyokan, tapi jangan kau takut hujan. Karena hujan sebenarnya menyembuhkan. J"

 

Sedikit terkejut, meskipun aku merasa tersanjung. Tidak percaya jika payung itu sengaja dipinjamkan untukku. Tapi, di kartu itu jelas benar tertulis namaku. Aku penasaran. Tapi, aku memilih untuk mendiamkan pikiranku yang bermacam-macam. Tidak mungkin kan kalau aku punya secret admirer?

 

***

 

 

Duduk di dekat pohon besar rasanya sangat menyenangkan. Terasa sangat segar. Apalagi jika siang terik begini. Aku memang sering menyendiri duduk di bangku bawah pohon besar ini. Dari jauh terlihat menyeramkan, bahkan beredar mitos bahwa banyak penunggu di pohon ini. Tapi, aku tidak peduli. Aku justru senang karena aku memiliki tempat ini sendiri. Sembari menggambar sekenanya di buku sketsaku.

 

Tiba-tiba terlintas, siapakah pemilik payung itu. Aku tidak mau dibilang GR. Tapi, aku memang GR. Jangan-jangan, aku beneran punya penggemar rahasia. Penggemar rahasia? Bukankah aku juga seorang penggemar rahasia? Aku juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan orang itu, diam-diam memberikan sesuatu yang dia sukai.

 

Namanya, Dimas. Dia adalah seseorang yang sangat baik padaku. Dulu, dia pernah menolongku ketika aku tersesat waktu kemah, dan sejak itu, aku menjadi pengagum rahasianya. Kami tidak pernah kenalan, karena dia sama sekali terlihat tidak peduli denganku, dia bahkan tidak menanyakan namaku. Yah, mungkin karena dia memang berniat baik hanya ingin menolong orang yang membutuhkan, layaknya superhero. Dan aku mulai memperhatikannya.

 

            "Dimaaasss!!" Suara Magenta berteriak memanggil. Aku mendongak sebentar. Mengalihkan tatapanku dari sketch-book. Tepat di depanku, tepat berdiri Dimas. Tampaknya dia sedang tidak sengaja lewat di depanku, kemudian, Magenta memanggilnya, dan itu membuat Dimas berhenti tepat di depanku. Jaraknya hanya sekitar lima meter dari tempatku duduk. Sekilas aku bertatap mata dengannya, tapi aku gugup, lalu aku menunduk. Mukaku sepertinya memerah. Beruntung, Dimas dan Magenta segera berjalan pergi. Ketika aku kembali mendongak untuk memastikan apakah Dimas masih berada di situ. Lagi-lagi kami bertatap mata, hanya sedetik saja, (mungkin), lalu aku kembali menunduk. Bagaimana bisa kami selalu bertemu mata? Jangan-jangan Dimas memandangku dengan tatapan aneh, atau bahkan melihatku karena aku terlihat aneh? Itu mengerikan.

 

***

 

            Lagi-lagi aku hujan mengguyur. Padahal seharusnya aku pulang cepat. Dan lagi-lagi aku tak membawa payung. Aku harus tiba di rumah sebelum pukul setengah tiga. Sekarang sudah pukul dua siang, tapi hujan belum reda. Tidak begitu deras, tapi lumayan masih berbahaya kalau aku sampai hujan-hujanan. Sejak kutemukan payung biru langit itu, aku membawa payungnya tiap hari. Tapi, entahlah, hari ini, aku lupa membawanya. Aku menunggu di bawah. Masih ragu, antara nekat pulang atau tidak.

 

Aku bersiap untuk lari. Menyeberang lapangan upacara utama di depan dan menerjang hujan.

 

"Ini." Seseorang dari belakang mengulurkan sebuah payung. Aku menoleh. Lalu, seketika aku terdiam tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak menerima payung itu karena gugup, benar-benar gugup dan jantungku terasa telah lari ratusan kilo meter meninggalkanku. Setelah sekian detik, aku tetap terpaku kaku saking gugupnya. Dimas meninggalkan payungnya di depanku, di bawah kakiku, kemudian dia berlari menerjang hujan, meninggalkanku di sana. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa.

 

***

 

Rasa suka itu aneh. Tiba-tiba benci pada diri sendiri ketika kita merasa telah bertingkah konyol di depan orang yang kita sukai. Bagaimana pun kita ingin selalu terlihat menarik di depan orang yang kita suka. Kita ingin mencuri perhatiannya dengan apa yang kita lakukan. Tapi, nanti akan salah tingkah sendiri jika kita berhasil menarik perhatiannya. Itulah cinta. Benarkah?

 

Aku sudah menunggunya di depan kelas. Setelah beberapa hari, aku akhirnya memberanikan diri untuk mengembalikan payung Dimas. Lalu kemudian datang dari arah berlawanan. Lagi-lagi ternyata aku tak bisa sekuat yang aku bayangkan. Jantungku pasti berdegup lebih kencang. Dimas berjalan ke arah kelasnya. Maka tiba-tiba aku memutuskan untuk sembunyi. Dan dia lewat begitu saja. Mungkin aku harus mengembalikannya diam-diam.

 

***

 

Pagi itu aku masuk dengan tergesa-gesa. Sepertinya aku akan terlambat. Karena flu, kepalaku agak terasa pusing. Makanya aku tak bisa lari kencang seperti biasanya. Dan benar, aku terlambat datang ke sekolah.

3 jam kemudian...

 

            "Mau kemana, Mel?" tanya Rama, ketua kelasku.

 

            "Ke kantin," jawabku singkat malas berbicara lebih.

 

            "Kamu kelihatan pucat."

 

            Aku hanya tersenyum. Memang, kepalaku terasa pusing. Lalu, tanpa berkata apa-apa aku beranjak menuju UKS, mungkin minum obat akan menunda rasa sakit ini. Mata Rama masih mengikutiku sampai aku hilang dari pandangannya.

 

            "Banyaklah minum air putih biar tidak flu. Ini, roti spesial buatan ibuku."

 

Kembalinya dari UKS, aku menemukan sebotol air mineral dan sebungkus roti, lalu di atasnya tersemat kertas berwarna biru. Jenis kertasnya sama dengan kertas yang tersemat di payung biru langit itu. Terbersit dalam pikiranku bahwa roti ini dari Rama. Ah, tapi mana mungkin? Tapi siapa?

 

***

            Aku memandangi payung biru langit itu. Belum sempat aku mengembalikannya kepada Dimas. Kemudian, payung dengan warna yang sama masih terlipat rapi di tasku, entah itu payung milik siapa. Hari ini aku memutuskan untuk meletakkan payung biru langit milik Dimas di atas mejanya sebelum Dimas datang. Aku tak berani menemuinya secara langsung. Aku pasti akan sangat gugup.

 

            Pagi sekali, pukul enam pagi. Masih belum tercemar udara pagi ini oleh asap kendaraan dan asap rokok, aku sudah berada di depan kelas Dimas. Untung, Pak Kuat, tukang kebun sekolahku berbaik hati mau membukakan pintu kelas.

 

            Aku tahu persis dimana Dimas biasa duduk. Aku memperhatikannya setiap kali aku lewat di depan kelasnya. Jujur saja, aku memang sengaja setiap hari berbaik hati mengambil daftar presensi, spidol atau apalah, semua itu aku lakukan hanya untuk melihat Dimas di kelas saat jam pelajaran.

 

            Dimas biasa duduk di bangku nomor dua barisan ke dua dari pintu. Setiap kali lewat, aku melihat Dimas sedang serius mendengarkan penjelasan guru.

 

            Setelah pak Kuat selesai membuka pintu kelas Dimas, aku segera menuju meja Dimas. Bangku nomor dua barisan ke dua dari pintu masuk. Aku duduk di kursi itu. Aku baru sadar, bahwa dari posisi itu, dia bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi di luar, di luar pintu kelas. Seketika aku merasa malu, jangan-jangan selama ini, ketika aku sengaja curi-curi pandang ke arah kelas ini, dia menyadarinya. Ah, segera aku menyingkirkan pikiran itu. Mana mungkin Dimas sempat-sempatnya memperhatikan apa yang terjadi di luar? Apalagi itu aku. Lalu aku mencoba melihat sekeliling, membayangkan bagaimana jika aku jadi dia yang duduk di bangku nomor dua barisan kedua itu. Lalu, aku meletakkan payung biru langit milik Dimas di atas meja. Tak lupa aku menulis pesan di atas kertas, sebagai ucapan terima kasih.

 

            Lalu, aku mulai meninggalkan payung itu tergeletak di mejanya. Namun, baru beberapa langkah aku meninggalkan meja Dimas. Aku berbalik. Aku malu, aku takut aku ketahuan orang lain, aku takut kalau teman-teman memergokiku. Maka kuputuskan untuk memasukkan payung itu ke laci saja.

            Tapi, kemudian aku ragu. Lalu, aku merogoh laci itu hendak mengambil payung itu. Ketika aku merogoh laci Dimas, laci itu penuh kertas. Ah, biasalah anak cowok suka main kertas. Ku coba keluarkan apa yang ada di laci, aku juga ingin mengambil kertas pesanku lagi.

 

            Kuraba laci itu, dan ternyata banyak sekali kertas di depannya. Kukeluarkan semuanya. Sedetik...dua detik...tiga detik...dan detik berganti menjadi menit....

 

Aku terdiam. Kertas-kertas itu, kertas biru langit ini....

 

***

            Aku tak mau menduga-duga. Tapi, apa lagi jawabannya? Dimas menyimpan kertas-kertas biru langit yang sama persis dengna kertas yang tergantung di payung. Sepertinya itu adalah kertas-kertas yang tidak jadi diberikan kepadaku. Sepertinya, dia selama ini diam-diam memerhatikanku. Selama ini ternyata dia sama sepertiku. Menjadi penggemar rahasia. Tapi, siapa sangka bahwa penggemar rahasiaku? Rasanya masih tidak percaya. Bagaimana bisa? Setelah kuketahui malah aneh jadinya.

 

            Aku suka sama kamu. Tapi, aku terlalu pengecut untuk mengatakannya.

 

Aku menggenggam salah satu kertas biru langit yang aku ambil di laci meja. Entah kisah penggemar ini akan jadi apa jadinya. Aku juga bingung.

 

            Langit mendung. Sebentar lagi akan hujan. Aku telah mengembalikan payung yang dipinjamkan Dimas kepadaku. Tapi, aku tidak akan khawatir, karena aku masih punya payung biru langit satu lagi dari penggemar rahasiaku. Aku melangkah menerjang hujan. Biasanya, aku tidak berani. Tapi, mengetahui bahwa payung itu dari seorang penggemar rahasia, "Dimas", aku jadi senang berjalan di tengah hujan yang lebat menggunakan payung itu.

 

            Di pojok ruangan, dimas memperhatikanku diam-diam. Seperti yang dia lakukan setiap hari. Dimas tahu kalau setiap hari aku akan lewat di depan kelasnya, dan saat itu dia akan berpura-pura memperhatikan. Ketika aku diam saja kala Dimas memberikan payung itu kepadaku, sesungguhnya hatinya bertanya-tanya mengapa aku diam saja? Mengapa aku tidak menerima uluran payung dari tangannya? Sampai akhirnya, Dimas hanya meletakkan payung biru langit itu di depanku begitu saja, lalu berlari menerobos hujan.

 

            Kisah ini sungguh unik. Mungkin saja ada jutaan orang di dunia yang menjadi penggemar rahasia dari teman yang lain. Jadi stalker dan menjadi pahlawan diam-diam dan rahasia, tapi berusaha memberikan kode-kode rahasia agar si dia mengerti. Semua itu adalah kisah yang lucu dan unik, karena semua pengalaman tentang perasaan itu unik.

 

            Payung biru langit? Sampai kapan pemilikmu tidak menjadi rahasia lagi?

 

(Oleh: Ayufi, foto ilustrasi: tumblr.com)

 

author :

Astri Soeparyono

Digital Content Producer untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN