Ridwan Kamil: Panduan Untuk Remaja Memilih Calon Pemimpin

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Senin, 7 April 2014

Ridwan Kamil: Panduan Untuk Remaja Memilih Calon Pemimpin

Wali Kota Bandung ini yakin kalau menggunakan hak pilih saat pemilu itu wajib banget sebagai perjuangan untuk mewujudkan keinginan kita. Dan yang pasti, agar hidup kita enggak diatur oleh orang yang enggak paham apa yang kita inginkan.

 

Kenapa, sih, anak muda Indonesia, khususnya remaja harus menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu?

Sebenarnya politik itu adalah cara untuk memperjuangkan apa yang kita mau. Jadi kalau anak-anak muda ini  punya keinginan tertentu dan enggak terwujudkan, berarti harus berpolitik untuk bisa mewujudkannya. Dalam bentuk OSIS atau organisasi apa pun. Karena enggak semua orang bisa bicara maka harus diwakilkan. Jadi, politik itu kuncinya menyampaikan apa yang kita mau dengan cara diwakilkan pada orang yang kita percaya (melalui pemilu). Kalau suara kita enggak digunakan sebagaimana mestinya, nanti jangan menyalahkan kalau orang yang salah mengatur hidup kita.

 

Jadi kalau anak-anak remaja pembaca kaWanku pengin hidupnya lebih keren dan lebih seru, pilih orang-orang yang suatu hari nanti kita percaya akan bisa mengatur hidup kita untuk jadi lebih baik, bukan jadi lebih buruk. Makanya jangan salah pilih. Itu sebenarnya. Jangan salah memilih orang yang enggak mengerti apa yang kita mau.

 

Kalau begitu, apa kuncinya agar remaja sekarang enggak salah pilih atau bisa memilih orang yang paham apa keinginan kita?

Kuncinya yang pertama, Google aja. Cari tahu tentang mereka, lihat janji-janjinya. Kalau terlalu muluk-muluk, jangan dipilih. Tapi kalau masuk ke logika kita, bisa kita wujudkan dengan cepat, dengan cara-cara yang masuk akal, berarti dia punya peluang. Tapi kalau terlalu jauh dan enggak masuk ke logika kita, ya enggak usah.

 

Kedua, lihat latar belakangnya. Apakah dia pernah korupsi atau punya masalah? Semakin track record-nya bersih, semakin baik. Minimal bersih ya, kalau pun enggak berprestasi. Tapi kalau dia bersih dan berprestasi, itu bisa jadi pilihan.

 

Bagaimana cara membedakan pemimpin yang sekadar pencitraan saat kampanye atau benar-benar tulus?

Makanya kita sebagai pemilih harus lebih pintar daripada pencitraan yang dilakukan oleh calon-calon yang akan dipilih. Caranya bagaimana? Ya, kita harus meluangkan waktu untuk mengecek. Dia benar pintar atau enggak? Punya kapabilitas atau enggak? Dan sebagainya. Enggak bisa kalau tanpa riset.

 

Untuk mau melakukan riset seperti tersebut,  tentu harus ada kemauan dari diri sendiri. Tapi banyak anak muda atau remaja sekarang yang malas bahkan alergi sama hal berbau politik. Bagaimana cara mengatasinya?

Itu karena beritanya buruk-buruk. Makanya, jangan salah pilih. Belajar dari sejarah, bagaimana hebatnya orang-orang hebat mengubah dunia. Gunakan internet dan buku-buku sejarah untuk mencari informasi. Kuncinya adalah jangan salah memilih orang yang akan mengatur hidup kita. Kedua, kalau enggak nyoblos, nanti suaranya dikerjai orang. Dikasih ke orang yang tidak bertanggung jawab. Nanti hasilnya juga jadi enggak seperti yang kita harapkan.

 

Memang kapabilitas seperti apa yang harus dimiliki oleh para wakil rakyat dan pemimpin di negara ini?

Yang penting, mau bekerja untuk rakyat. Terkadang, enggak perlu orang yang pintar banget, yang penting dia mau kerja. Pintar banget juga kalau dia enggak mau kerja, pasti susah. Tapi zaman sekarang itu butuh orang-orang yang memahami masalah, yang bisa mencari dan menemukan solusi. Enggak hanya berteori tapi dia juga beraksi. Punya teori yang enggak asal, juga mau turun ke lapangan. Kalau Pak Jokowi menerjemahkannya sebagai blusukan atau hal-hal yang sifatnya di lapangan.

 

Tapi, harus pintar juga, karena sebagai pemimpin itu kan mendorong dan mengarahkan. Enggak harus selalu pintar secara akademik, yang penting cerdas. Cerdas mengambil keputusan, cerdas mengambil solusi. Lalu punya empati, tegas, punya kejujuran, amanah dan sebagainya.

 

Terakhir, apa harapan bapak untuk remaja atau anak muda sekarang?

Indonesia itu negeri anak muda, Bandung saja, 40% penduduknya di bawah 40 tahun. Anak muda itu punya keunggulan, satu, fisiknya kuat. Kedua, rata-rata pintar karena sekolah. Jadi masyarakat itu sebenarnya mengandalkan anak muda untuk melakukan terobosan, perubahan. Harapannya, orang melihat kalau gelombang pemuda begitu banyak melakukan perubahan sehingga masyarakatnya terinspirasi kan? Makanya, betul kata Bung Karno, bahwa untuk mengubah dunia, cuma pemuda yang dibutuhkan, bukan orangtua. Dan cukup sepuluh. Bukan tujuh ya, kalau tujuh nanti jadi boy band. He-he-he....

 

Eits, boyband ada yang 12 orang lho, pak....

Oh ya? Ha-ha-ha....

 

(aisha, foto: dok. pribadi)

 

author :

Astri Soeparyono

Digital Content Producer untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN