Kurikulum 2013 Kembali ke 2006: Banyak Biaya?

Published by : Astri Soeparyono Posted on : Selasa, 9 Desember 2014

Kurikulum 2013 Kembali ke 2006: Banyak Biaya?

Pelaksanaan Kurikulum 2013 sudah diputuskan untuk dikembalikan ke kurikulum 2006. Tapi beberapa kalangan justru memandang penggantian kurikulum ini banyak menimbulkan kerugian terutama pemborosan waktu dan biaya. Bener enggak sih, Kurikulum 2013 kembali ke 2006 memakan banyak biaya?

 

(Baca juga: Mendikbud Hentikan Kurikulum 2013 Dan Kembali ke Kurikulum 2006)

 

Membeli buku lagi?

Selain menelan anggaran pendidikan yang jumlahnya mencapai Rp 2,2 Triliun, dalam perubahan kurikulum ini yang paling banyak dikeluhkan adalah akankah siswa yang menjadi korbannya, sebab mereka harus membeli buku-buku baru lagi?

 

"Di situ letak pertimbangannya, (mau) anak-anak kita yang dikorbankan supaya uang tadi diselamatkan, atau anak-anak diselamatkan tapi ada biayanya," kata Anies baswedan lagi, Senin (8/12).

 

Ia tetap kukuh, siswa sekolah yang baru menjalankan kurikulum 2013 dikembalikan ke kurikulum 2006. Soal buku yang sudah dimiliki siswa, Anies menyarankan untuk disimpan.

 

"Anak-anak biar kembali ke kurikulum 2006, bukunya disimpan, disimpan," katanya berulang.

 

Ia menganggap enggak akan sia-sia dengan apa yang sudah terjadi. Dan sementara siswa kembali ke kurikulum 2006, para guru tetap dikasih pelatihan intensif.

 

"Eggak mubazir kok melatih guru, yang penting anaknya kembali dulu biar enggak ada kekacauan di kelas, nanti ketika guru siap dan menguasai dengan baik, dia akan mengajarkan dengan baik juga,  jadi  biar enggak ada lagi keluhan PR banyak, tugas banyak. Itu karena enggak ada kesiapan guru," jelasnya.

 

(Baca juga: Kenapa Sih, Kurikulum 2013 Harus Dihentikan?)

 

 

Enggak perlu khawatir

Anies menambahkan bahwa sekolah tidak perlu khawatir untuk kembali ke Kurikulum 2006. Sebab, menurut Anies, konsep-konsep yang telah ditegaskan pada Kurikulum 2013 sebenarnya telah ada dalam Kurikulum 2006.

 

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi guru-guru di sekolah untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif di kelas. "Kreativitas dan keberanian guru untuk berinovasi itu kunci bagi pergerakan pendidikan Indonesia," tutur mantan rektor Universitas Paramadina itu.

 

Kamu sendiri, setuju enggak?

 

(Baca juga: Hal yang Harus Kita Lakukan Saat Malas Masuk Sekolah)

 

(sobri/hai-online.com, foto: hai, tribun news/dany permana)

author :

Astri Soeparyono

Managing Editor untuk kawankumagz.com. Selama bekerja di kaWanku pernah wawancara langsung sama Justin Bieber, Greyson Chance, David Archuleta, Jessie J, Maroon 5, dan masih banyak lagi. Tapi, belum pernah ketemu langsung 30 Seconds to Mars.

Komentar Kamu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×
Up

SIGN IN